Archive for July, 2006

Siapa yang mengerti???

Monday, July 24th, 2006

Beberapa hari lalu ada kejadian janggal dalam dunia hukum kita. Entah mengerti atau tidak, seorang Artis dilaporkan ke polisi hanya gara-gara dia jadi model iklan dan iklan tersebut masuk masalah Playboy. Aku tidak mengerti hukum sepenuhnya, tetapi ada yang janggal saja dengan tudingan si pelapor bahwa si model tersebut mendukung pornografi karena iklannya masuk majalah kelinci tersebut.

Saya jadi bertanya, si pelapor plus pengacaranya mengerti hukum apa nggak ya? Lha, jadi model iklan dan iklanya tayang di manapun itu bukan urusan si model. Atau si FPI (Ooopss…maaf kesebut) merasa perlu publikasi berlebihan untuk menaikkan pamornya di belantika kepremanan Indonesia, setelah diancam akan dibubarkan oelh pemerintah. Ngga tahu juga saya…

Yang pasti dunia preman termasuk preman berjunbah marak di Indonesia. Beberapa waktu lalu ada berita FBR denga teriak-teriak menyebut nama Tuhan-nya menyerbu perkampungan di Tanjung Priuk dengan dalih mencari pelaku pembacokan terhadap salah satu anggotanya. Sementara masih pada berita yang sama, sang komandan FBR bercuap kepada wartawan bahwa FBR bukan preman dan menyerahkan sepenuhnya pada polisi. Tetapi pada berita yang sama, ada visual FBR bawa samurai menghancurkan mobil-mobil yang sedang di parkir dan melempari rumah warga dengan bom molotov!!! Ironis….

Sementara FPI dengan menggebu-gebu menghakimi Nadine dan para putri Indonesia sebelumnya yang mengikuti kontes Miss Universe karena dianggap porno. Lha, yang saya tahu, Libanon ga pernah tuh menghakimi Miss-nya yang ikutan program sejenis. Malah, dia jadi duta perdamaian juga di sana menyerukan penghentian agresi Israel ke Libanon. Memang, seruan itu terasa "tidak bergigi" karena menjadi konsumsi media hiburan, tetapi khan, dia juga manusia…

Lha, sekarang saya tantang anda wahai preman berjubah, silakan anda datang ke Libanon dan Palestina, bantulah warga disana melawan Israel. Sya menghargai dan respek kepada anda semua kalau anda bisa melakukan itu dan menang. Istilahnya Vini, Vidi, Vici. Jangan ngurusin printilan-printilan yang ga penting demi popularitas kepremanan anda.

Beranikah anda??

Awareness

Monday, July 24th, 2006

Empat bulan sudah menjadi penghuni Lantai 3 yang jika malam tiba menjadi super dingin. Penyebabnya apalagi, manajemen lebih perduli terhadap alat, ketimbang manusia, jadi mereka lebih memilih mendinginkan alat-alat dikantor yang tidak pernah mati selama 5 tahun, ketimbang mendinginkan kepala manusianya yang mengkeret dikejar deadline atau durasi.

Empat bulan juga aku belajar banyak soal dunia ini. Dari mulai sistem kerja, suasana sampai mempertuhankan sesuatu yang sesungguhnya tidak aku pahami sepenuhnya. Tuhan itu adalah rating dan share, sederet angka dan grafik sebuah program televisi yang muncul di mading ruang RCD Lantai 3 setiap hari rabu siang. Ketika itu ditempel, terlihat wajah-wajah yang beraneka ragam. Mereka akan tersenyum nungging dan ceria kalau rating-share programnya bagus atau dapet 15%share, sebab itu berarti BONUS. Tetapi ada juga yang tersenyum kecut kalau rating-sharenya tidak sampai 15% dan yang pasti akan rapat dan marah-marah. Marah-marah?? Tidak juga, kadang mereka juga menyemangati untuk bisa meningkatkan barisan angka dan grafik di minggu depan.

Satu hal lagi adalah kepedulian terhadap hidup yang juga aku pelajari di Lantai 3. Bayangkan, semenjak menjadi penghuninya, aku lantas mengetahui berbagai macam penyakit yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. Asal muasal penyakit-penyakit itu terkadang tidak disadari oleh penderita dan dianggap penyakit biasa. Seperti seorang Bapak yang telah meninggal waktu kami datangi. Bapak itu menderita sariawan selama setahun dan akhirnya divonis kanker lidah oleh dokter. Atau seorang Ibu yang menderita kanker hidung karena mengabaikan gatal-gatal pada tahi lalat di hidungnya. Atau yang baru tayang tadi siang adalah anak korban tsunam di Cipatujah yang menderita kanker bibir sejak kecil. Huh…inilah dunia dengan beragam warnanya….

Bukan cuma penyakit, tapi juga hal-hal unik juga aku dapat. Siapa mengira kalau di Indonesia ada juga bra termahal, sepasang Rp. 450.000 buatan orang Serpong. Siapa mengira juga kalau gravitasi mempengaruhi bentuk payudara seorang perempuan. Atau saking kurangnya tempat pemakaman, ada beberapa calo yag menawarkan makam di Jakarta, samapi menjadikannya lapak untuk berdagang makanan. Ada juga sepasang suami istri yang nekat berjualan di tengah laut demi memenuhi kehidupan sehari-hari. Juga seorang pengamen orasi yang mampu menyekolahkan anak ketiganya sampai perguruan tinggi di daerah kumuh Jakarta Timur. Itu semua tidak aku dapatkan di tempat lain. Lantai 3 tempat belajar dan memaknai kehidupan. Meski Lantai 3 terkadang "keras", tapi sangat ramah pada kenikmatan hidup.

Semuanya membuat aku jadi peduli, atau belajar jadi peduli tepatnya. Dan akan terus demikian, sampai aku benar-benar peduli…

Sashi…

Monday, July 3rd, 2006

Demi dan atas nama Sashi, sang Bulan, aku merasakan keteduhan
Senyumnya membawa keteduhan dan ketentraman hati dan pikiran
Sehingga deras ombak dan jeram dapat kulalui dengan mudah
Tidak hanya mudah, tetapi sangat mudah sehingga ketika kulalui ombak dan jeram itu
aku seakan melayang menapaki jejak-jejakku yang kulukis sebelumnya di awan.

Jalan itu seolah terbentang lebar seluas semesta tak berbatas cakrawala
Jejak yang kulukis pada awan meninggalkan bekas yang semestinya dapat ku pahami
bahwa, jejak itulah penyampai pesanku pada Sashi
Sashi pun membalas dengan senyum teduhnya pada ku, kala itu
masa dimana waktu berjalan lambat.

Aku tertegun menyaksikan senyum Sashi yang teduh
Senyum itu membangkitkan semangat pada jiwa dan pikiranku
membangunkanku dari buai panjang pencarian kunci samudera hati
Yang dipenuhi palung-palung nan dalam
sepi, hitam dan tak berdenyut.

Senyum Sashi merubah itu semua secepat angin bertiup
Palung-palung terdalam hatiku tiba-tiba cerah, tidak lagi menghitam kelam
berirama kehidupan dan menelan mentah keputusasaan
Sucikan jiwaku dari pemberontakan yang tak kunjung usai
Pemberontakan yang buntu…

Sashi tersenyum teduh, wajahnya merona dan memancarkan gairah
Sashi tersenyum teduh, wajahnya merona dan memancarkan semangat
Sashi tersenyum teduh, wajahnya merona dan tidak pernah padam
Sashi tersenyum teduh, wajahnya merona sembunyikan rahasia
Sashi tersenyum teduh, wajahnya merona tapi tidak berkata…

Aku pun tidak berkata…
Pesan-pesanku padanya kusampaikan melalui angin menjejak awan
melintas padang rumput kehidupan, gurun pasir kebajikan
dan lautan emosi.
Dengan begitu aku yakin, pesank-pesanku telah sampai kepada Sashi
Tetapi dia hanya tersenyum teduh dan merona, tapi tidak berkata
Senyum yang bangkitkan semangat pada jiwa dan pikiranku

Untuk sejenak, Sang Bulan itulah temanku, sahabatku, kekasihku
Meski Sang Bulan hanya tersenyum teduh dengan wajah merona
tapi dia tidak berkata
Dia simpan rahasia itu

"Jika waktunya tiba aku akan bicara kepadamu…"

Dan sampailah aku di penghujung waktu yang ditunggu Sashi
Hanya separuh dari jiwanya yang berbicara padaku
separuh lagi berjalan memunggungi aku

Entah mengapa, senyum Sashi berbeda malam ini
Sang Bulan membuka kunci jiwanya padaku
Sashi, ya Sashi
Telah menungguku sejak lama
Tersenyum sejak lama
Berikan keteduhan jiwa dan pikiranku sejak lama
Sejak lama!!!

"Angin tak mampu sampaikan pesanku padamu saat itu"
"Awan tak mampu menjejak pesanku padamu saat itu"
"Aku perlu bertemu kamu, Sashi."

Dan telah kusampaikan pesan-pesanku yang tidak mampu
disampaikan angin, tak mampu menjejak awan
Dan dia tersenyum teduh
tetapi sebagian jiwanya memunggungi aku

Sampai hari ini, dia tetap tersenyum
Sang Bulan, Sashi, tetap teduh merona
Tapi kali ini dia memunggungi aku…

Bekasi, 3 Juli 2006