17an
Saturday, August 19th, 2006Heran juga melihat tingkah polah warganegara merahputih tiap tanggal 17 Agustus. Kegiatannya nyaris seragam, tidak berwarna, kecuali merahputih. Entah siapa yang mulai tapi, ya itu tadi, sama aja rame-ramenya tiap 17an. Di negeri ini tiap Hari Merdeka-nya selalu ada lomba-lomba yang menghibur. Tapi herannya sama aja muali dari pelosok sampai perkotaan. Yang di pelosok kadang mo jadi orang yang rada kota gitu dan di kota malah bergaya kampungan dan ga ada maknanya. Coba liat, kalo ada yang nonton Reportase, di Brebes ada kontes bapak cantik. Yang bapak-bapak rela didandanin ala wanita lengkap dengan segala aksesorisnya. Berlenggak-lenggok mirip wanita, bertutur kata dimirip-miripin. Padahal kalo mereka liat bencong a.k.a waria jijiknya minta ampun dan sudah pasti si bencong dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat. Tapi menjelang dan tiap 17an ada aja yang mengakomodir, atau tepatnya, mengkomoditikan bencong sebagai bentuk hiburan rakyat. Pantaskah?? Ya, ironis aja kalo bencong selama ini jadi musuh masyarakat, tiba-tiba menjelang 17an menjadi bulan-bulanan orang. Apa ngga sakit hati tu bencong?? Atasnama hiburan sepertinya tidak ada lagi batas jelas antara kemanusiaan, tertawa, dan komoditi setahun sekali.
Juga yang ada di tiap jengkal wilayah RI adalah lomba anak-anak seperti makan kerupuk, balap karung, balap kelereng, atawa panjat pinang. Tapi saya pikir lomba-lomba ini menunjukkan apa sesungguhnya Indonesia dan orang Indonesia.
Makan Kerupuk: Menunjukkan bahwa bangsa ini masih miskin, sehingga mulai dari kecil sudah dilatih untuk mengkonsumsi kerupuk saja, dan balapan lagi, sehingga kalo kerupuknya udah habis bisa minta secepatnya sama yang punya kerupuk, atau yang gengsi makan kerupuk. Tapi melalui lomba makan kerupuk ini pula, pemerintah ingin menunjukkan bahwa dengan makan kerupuk saja siswa-siswi kita bisa berprestasi menyumbang medali emas di berbagai lomba ilmiah nan njelimet. Mereka mengalahkan siswa-siswi dari negara yang tiap hari makannya salad, steak, dan minum jus. Kalo saja mereka makan kaya gitu juga, mustahil bisa menang kali ya…
Balap Karung : Orang Indonesia ini mirip orang balap karung. Punya dua kaki dan dua tangan tapi tidak digunakan untuk berusaha, malah dibelenggu. Hasilnya, bangsa lain sudah berlari, ktia masih melompat tidak jelas dan terjatuh pula. Tengok Korea, masa krisisnya bareng sama Indonesia, tapi mereka sudah mampu berlari ekonominya, sementara Indonesia masih tertatih-tatih pincang, karena tidak semua sumber digunakan secara maksimal, karena terbelenggu oleh orang-orang bangsa sendiri yang mencla-mencle urus apa yang harus diurus.
Panjat pinang : Tampaknya pemeo Mikul Duwur Mendem Jero masih dipake oleh orang Indonesia. Demi dapet segudang prestasi, masih banyak koq yang menindas bawahan dan dia sendiri menikmati hasilnya sendirian di puncak kebahagiaan. Mau dapet reward memang bukan hanya kerja individu, melainkan tim. Dan kerja tim itu harus solid. Demi mendapat hadiah, mereka mesti berusaha memanjat pinang berlumuran oli. Dan caranya ya itu tadi, mikul duwur mendem jero, menjunjung tinggi yang diatas, tetapi menginjak-injak yang dibawah. Untung saja di Panjat Pinang, yang sampe ujung masih inget sama temen-temenya yang dia injek-injek…
Andai saja Indonesia tiap 17an itu bikin lomba penelitian ilmiah, lomba baca buku, resensi. Kalo kata orang "njelimet kalo bikin lomba yang begituan, lha wong tujuannya menghibur.." Pernah dicoba? Yang penting bukan njelimet atau ngga, tapi paketnya bagus atau ngga. Reportase aja bisa koq berbeda dan punya slogan "Berita boleh sama, tapi kami mengemasnya secara berbeda…" Hasilnya, rating tinggi dan juga menghibur….Hehehe…promosi.