Archive for September, 2006

The God of Small Things

Saturday, September 30th, 2006

Ini memang menggunakan judul buku yang ditulis oleh Arundhati Roy, The God of Small Things. Secara sembarangan bisa diartikan Tuhan dari hal-hal kecil. Aku sendiri baru baca setengah bukunya, dan belum bisa "menerjemahkan" buku ini dengan lugas, tetapi ada beberapa hal yang bisa diungkapkan di sini.

Aku mengartikan bahwa setiap hal dapat menjadi Tuhan. Dari selebaran yang biasa di pajang waktu Sholat Jum’at, aku mendapat sebuah pengertian tentang Tuhan. Tuhan adalah sesuatu yang dijunjung tinggi manusia, sehingga manusia takluk dan rela ditaklukan oleh sosok yang dijunjung tinggi itu. Sama seperti pengertian Hegemoninya Gramsci, ada dominasi dan rela didominasi. Pengertian ini bukan untuk mempertanyakan sosok tuhan dalam kacamata agama, aku menggunakannya untuk menjelaskan perilaku manusia dalam dunia penuh warna ini.

Jika merunut pendapat yang demikian, maka Tuhan dapat hadir dalam berbagai bentuk, baik yang nyata maupun tidak nyata. Kita dapat melihat bagaimana dalam bentuk nyata orang mengejar materi, demi memuaskan hasrat kepuasan dirinya, demi citra, demi image, demikian….

Atau kita juga dapat melihat orang mengejar sesuatu yang sebetulnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Serba fana, serba terselubung, serba misteri, bahkan serba mistis dan serba-serbi…

Ketika orang meributkan hal-hal yang berbau Ketuhanan, maka ia hadir dalam bentuk dan sosok yang baru. Terlihat bagaimana ribut-ribut manusia soal tanah, yang akhirnya dapat memicu perselisihan antar manusia, bahkan disisipi bumbu ideologi dan warna kulit. Terlihat pula ribet-ribetnya manusia soal hidupnya sekarang yang tak pernah puas, penuh keluh kesah, selalu memandang apa yang ada di atasnya tanpa pernah introspeksi masih banyak yang tidak seberuntung dirinya di bawah. Itulah tuhan dengan t kecil, yang dalam perjalanannya menjadi Tuhan dengan T besar…

Tetapi di balik itu semua, The God of Smal Things, Tuhan dari hal-hal kecil yang sesungguhnya adalah cinta…Dengan cinta aku bisa menghadirkan Tuhan dalam hidupku, dengan Cinta aku bisa menghadirkan semangat dalam hidupku, dengan Cinta aku bisa berserah diri pada Tuhanku, dengan Cinta aku semakin cinta dengan Tuhanku. Dan Tuhan telah menghadirkan cinta untuk ku…

Selamat malam cinta, have a nice wiken…

Marhaban Ya Ramadhan

Thursday, September 28th, 2006

Sebenernya telat banget untuk ngucapin Marhaban Ya Ramadhan. Daripada ngga sama sekali, lebih baik telat. Sekali lagi Marhaban Ya Ramadhan, semoga segala amal ibadah kita di Bulan Suci ini dan bulan-bulan lainnya mendapat berkah dan pahala dari Allah SWT. Juga jadi momen untuk saling memaafkan, so, maafkan segala kesalahanku, baik sengaja ataupun tidak sengaja, khilaf maupun tidak khilaf. Semoga dengan berpuasa, kita menjadi salah satu umat yang meningkat ketaqwaannya.

Memasuki ramadhan, tidak ada yang spesial. Tarawih pertama lewat begitu saja karena aku masih sibuk taping di Taman Mini. Ini karena Wisata Kuliner tidak termasuk salah satu program yang di -pre-amp, bahkan dibuat edisi Ramadhan. Makanya kita tim Wisata Kuliner semakin pusing, keriting, dan tahan banting, harus syuting di siang bolong. Secara host kita itu ga puasa, jadi semakin lengkaplah pahala puasa kita, karena mampu menahan godaan di siang bolong yang berlipat.

Seperti kemarin, taping di PIM, kita taping es krim, kue coklat dan masakan Jepang. Padahal kita taping siang terik, dan harus mampu nahan iler ngeliat beliau dengan ma’ nyuzz makan fruit salad bertabur yoghurt. Weeeekkkk….pengen :(*

Belum lagi kita juga harus taping di Taman Mini, dimana Jakarta yang panas juga berimbas pada keadaan cuaca di sana. Bayangkan, di sana bukan lagi siang bolong, tapi udah siang bocor, dan bolong sama bocor udah sodaraan, jadi sama aja, malah lebih dikiiiit panasnya. Otomatis aku jadi kurang waktu untuk recovery, padahal taping udah hampir tiap hari sejak rabu minggu lalu. Dan, masih menunggu jadwal taping lagi di hari-hari berikutnya.

Dengan kondisi seperti ini aku kangen dengan segala rutinitasku masa lalu. Meski jarang-jarang, tapi dulu masih sedikit rajin tarawih. Tarawihnya kadang 11 rakaat kadang 23, tergantung malam apa. Kalo ada siaran langsung AC Milan atau film bagus, pasti 11. Kalo si imam tarawihnya udah terkenal lama mimpin tarawih, juga kadang 11. Tapi kalo lagi dateng urat lurusnya, pasti 23. Abis itu lanjut tadarusan, meski cuma 1 ayat. Sering juga cuma nongkrong di Mesjid dengerin orang ngaji. Malamnya keliling komplek bangunin orang sahur, dan balas dendam tidurnya di pagi hari. Masa yang menyenangkan tampaknya….

Sekarang keadaan berubah 180 derajat. Pagi taping sampe malem, ga tarawih, ga tadarus, kadang nyaris ga sahur. Ini mirip pemeo P Syndrom, Pergi Pagi Pulang Pagi, Pegal-pegal, Pusing, Pengen Istirahat, Pengen Tidur, Pengen……Dan, seringkali aku merasa bukan manusia ketika berhadapan dengan rutinitas dan deadline, tetapi kita semua di tim ini adalah robot. Padahal Robot juga buatan manusia….

Sekali lagi Marhaban Ya Ramadhan…..

Untung di Kantor ada yang menyenangkan……

Pecianan di Semarang

Saturday, September 23rd, 2006

Entah kenapa, Semarang begitu terkenal akan peranakan Tionghoa. Ada Pecinan yang khas banget Cina-nya. Berbagai macam arsitektur dengan warna-warna mencolok mudah ditemui di kawasan ini. Selain itu, harum dupa selalu menyertai orang-orang atau bangunan yang berada di kawasan ini. Ada Klenteng, ada rumah Cina jaman dulu, dan yang ga ketinggalan, rumah makan Cina.

Untuk yang satu ini tersebar di berbagai pelosok Semarang, mulai dari kelas pinggir jalan ala K 5, sampai resto-resto mahal. Beberapa resto yang bukan "Cina" ada pula yang menyertakan masakan CIna dalam daftar menunya. Tampaknya, kehausan peranakan Tionghoa akan masakan dan makanan dapat terpuaskan bila mengunjungai Semarang. Temanz di Surabaya yang penggemar masakan dan makanan pernah bilang, bahwa kalo mau cari tempat makan enak, ikutin aja orang Cina. Sebab, orang Cina itu doyan makan makanan enak. Terang aja masakan Cina enak, lha wong mengandung B 2.

Soal B 2 di kawasan Pecinan, bukan hanya milik Semarang. Di Kembang Jepun Surabaya juga ada kawasan Jajanan Cina, Kya-Kya. Namun, Kya-kya memberi batas bahwa beberapa blok khusu menjual masakan halal, yang lainnya masakan non halal. Di Pecinan Semarang itu tidak ada. Semua bercampur jadi satu pada event Pasar Semawis di sekitaran Gg. Pinggir. Event ini cuma ada jum’at-sabtu, jadi kalo mau cari jajanan dan pernak-pernik ke-Cina-an bisa dateng ke pasar Semawis ini.

Di pasar Semawis kita bisa membeli banyak barang khas Cina, lengkap dengan warna-warna yang ngejreng abis. Kalo mau muasin perut bisa juga, sebab sepanjang jalan di kiri kanan pasti ada warung makan. Bagi muslim, harus hati-hati, sebab bukan tidak mungkin makanan yang punya label halal menjadi tidak halal karena bercampur dengan bahan-bahan non halal.

Ada juga pasar Gg. Baru yang buka pada pagi hari dan bersih sekitar jam 9 pagi. Di sini kita juga bisa menemukan daging B 2 fresh, lengkap dengan jeroannya. Selain itu ada juga udang, yang menurut BW itu khasnya pasar Gg. Baru. Udangnya gede-gede dan segar, artinya fresh dari laut. Selain di jual mentah, ada juga yang dijual sudah dalam bentuk olahan. Banyak macamnya kok, terserah kita aja mau beli yang model apa.

Bicara soal Cina di Semarang, tidak terbatas pada gg. Pinggir, Pasar Semawis, atau pasar Gg. Baru, tapi jangan ketinggalan juga Cheng Ho. Admiral dari Cina ini adalah seorang muslim, namun sangat di hormati oleh kalangan Kong Hu Cu se Indonesia. Ini tandanya bahwa toleransi antar umat beragama sudah terpelihara sejak dulu, hanya pada jaman sekarang, orang sudah tidak bisa berpikir panjang. Beda agama = musuh!!!

Klenteng Sam Po Kong menurut cerita dulunya adalah tempat persinggahan Cheng Ho ketika kapalnya terbakar. Di sini ada dua klenteng di sayap kiri dan kanan serta klenteng utama. Selain itu ada dua goa do’a bagi umat Kong Hu Cu, yang terlarang bagi non Kong Hu Cu untuk memasukinya. Klenteng di sayap kanan adalah Klenteng Juru Mudi, dan sayap Kiri adalah Klenteng Jangkar. Selain itu terdapat pula makam Juru Masak. Semuanya terkait dengan perjalanan Cheng Ho yang membawa pesan perdamaian dari Kaisar Cina pada masa itu.

Klenteng ini begitu indah warnanya. Merah mencolok dengan ornamen-ornamen khas Cina. Saat ini sedang dalam tahap renovasi dan pemugaran, serta penambahan pagar kompleks serta patung Cheng Ho do depan klenteng utama. Bagi yang doyan foto, ini salah satu tempat yang wajib dikunjungi untuk berburu foto. Jangan khawatir, selain tempat do’a, klanteng ini juga di buka untuk umum sebagai arena wisata, asal kita menghormati dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku, kita bisa bebas menjelajah isi Klenteng itu.

Well, tampaknya puasa segera tiba, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon Maaf Lahir Bathin….

Surga Fotografi

Tuesday, September 19th, 2006

Masih tentang Semarang dan berbagai rangkaian keunikan dan segala sesuatu yang serba khas. Kali ini aku menyorot beberapa tempat di wilayah Semarang yang di penuhi dengan ornamen dan arsitektur serta lanskap peninggalan masa lalu. Salah satunya kawasan Kota Lama Semarang. Kawasan ini dekat dengan Stasiun Kereta Tawang. Bahkan, Tawang juga bagian dari kawasan Kota Lama ini. Kawasan Kota Lama dipenuhi gedung-gedung kuno berarsitektur khas Eropa. Yang paling terkenal selain Stasiun Tawang adalah Gereja Blenduk. Gereja ini pada awal di bangun pada 1753 berbentuk rumah panggung Jawa dengan atap yang jawa banget. Lantas direnovasi beberapa kali sampai renovasi besar diadakan pada 1894. Renovasi besar ini menghasilkan bangunan seperti yang ada sekarang ini. Gereja ini sejatinya milik Kristen Protestan, namun sempat pula di gunakan oleh Umat Katolik ketika mereka belum memiliki gereja sendiri di Semarang.

Dinamai Gereaj Blenduk karena di bagian atas terdapat dua menara dan satu kubah besar dengan penutup dari logam dan kayu jati. Kubah dalam bahasa Jawa berarti Blenduk, oleh karena itu, orang Jawa dan orang Semarang jaman dulu menyebutnya Gereja Blenduk. Sekarang nama resminya GPIB Immanuel, letaknya di Jalan Soeprapto 32, Semarang. Gereja ini lebih enak dinikmati sore-sore, sebab ada taman bunga di samping Gereja yang asri. Orang-orang sekitar banyak yang memanfaatkannya untuk jalan-jalan sore atau aktifitas lainnya.

Di depan Gereja Blenduk ada warung Sate Kambing 29. Kalo mau nyicip sate ini ga perlu susah-susah ke Kota Lama, sebab cabangnya udah dimana-mana. Tetapi Sate Kambing 29 yang di depan Gereja Blenduk adalah yang pertama kali buka. Selain Gereja Blenduk dan Sate Kambing 29, masih banyak gedung-gedung kuno yang bisa dinikmati di Kota Lama. Bagi penggemar fotografi hitam-putih, kawasan ini sudah menjadi surga bagi fotografi. Selain Gereja, ada gedung Telkom, Kantor Pos Besar Semarang, Gedung Jiwasraya, dsb. Sayangnya, banyak gedung tidak terawat, kusam, rusak, kumuh. Apalagi sungai yang di atasnya terdapat Jembatan Berok juga kotor, hitam pekat, dan jika banjir…wueeekk pasti kotor dan bau, sehingga semakin meninggalkan kesan kumuh.

Yang lain adalah Lawang Sewu. Siapa si yang ga kenal Lawang Sewu ? Sejak muncul penampakan yang menghebohkan pada acara Dunia Lain, pamornya semakin meningkat sebagai gedung paling "berpenghuni", sehingga kesan mistis begitu melekat pada bangunan ini. Lawang Sewu terletak di putaran Tugu Muda Semarang. Di antara gedung-gedung kuno di sekitar Tugu Muda, Lawang Sewulah gedung yang paling tidak terawat dan dibiarkan teronggok begitu saja. Berbeda dengan gedung-gedung lain seperti rumah dinas gubernur dan museum. Namun, Lawang Sewu menjadi landmark Semarang, orang inget Semarang pasti inget Lawang Sewu.

Lawang Sewu adalah gedung berlantai dua dengan dua massa bangunan membentuk huruf L. Dibangun pada 1903 dan diresmikan pada 1907. Bangunan ini sangat monumental, dengan penempatan menara kembal model Gothik di depan pintu utama, dan gedung di bangun memanjang mengesankan kemegahan. Dan memang megah. Gedung ini dulunya adalah kantor Jawatan Kereta Api Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg Naatschapiij atawa NIS. Dan setelah Belanda hengkang, gedung ini juga digunakan oleh cikal bakal PT. KAI yaitu Djawatan Kereta Api Indonesia (DKARI). Selain itu pernah di pakai oleh Departemen Perhubungan dan terakhir dijadikan kantor KODAM IV Diponegoro. Menurut cerita, pada masa penjajahan Jepang juga dipakai Jepang sebagai markas komando dan membuat Penjara Bawah Tanah. Penjara ini digunakan Jepang untuk menahan dan menginterogasi tahanan Indonesia. Terkadang saking pekatnya, tahanan Indonesia yang dipenjara di Penjara Bawah Tanah tidak menyadari bahwa rekan satu sel-nya telah tewas mengenaskan. Menurut cerita pula, tahanan yang tewas dibuang begitu saja ke dalam sumur sedalam (konon) 900m yang terletak di sebelah kiri gerbang Lawang Sewu. Cerita-cerita itulah bumbu yang menyertai keberadaan Lawang Sewu sampai sekarang. Kini keadaannya kusam dan penuh debu semakin meningkatkan citra mistisnya.

Masih ada lagi ko gedung dengan arsitektur indah lainnya di Semarang, namun lagi-lagi bersambung…

Semarang…

Sunday, September 17th, 2006

Semarang, ibu kota provinsi Jawa Tengah ini telah ku singgahi. Selama delapan hari berkutat dengan ribetnya liputan. Tanpa pernah lupa jalan-jalan, makan-makan dan foto-foto. Yang jelas, selama delapan hari aku ga ngerasa ada di luar Jakarta dan Semarang tu Panazzz banget. Yah, wajar aja, menurut cerita orang-orang dulu, Jalan Pandanaran, lokasi hotel tempat ku menginap, dulunya dekat laut. Dan lahan tempat hotel ini berdiri adalah hasil  pengurukan laut. Benar atau ngga ya ga tau….

Beberapa tempat makan dan wisata ku datangi. Banyak yang enak-enak tapi mesti berhati-hati juga. Semarang ternyata kental dengan suasana Cina. Meski ada komplek Pecinan, tapi masakan Cina beredar memenuhi setiap sudut Kota Semarang. Makanya, setiap mau makan aku dan temanz sedikit milih-milih. Tahu sendiri kalo masakan Cina pasti mengandung B 2. Termasuk juga Loenpia Semarang. Yang paling terkenal dan yang paling pertama di Semarang jualan Loenpia adalah Loenpia Gg. Lombok di kawasan Pecinan. Namun, untuk kalangan muslim Loenpia Gg. Lombok jangan jadi tujuan utama kalo mau beli oleh-oleh. Pengalaman membuktikan!! Temanz Wisata Kuliner ada yang beli Loenpia Gg. Lombok waktu survei, dan memang enak katanya. Temanz memastikan kalau itu halal, tetapi Pak Bondan Winarno bilang itu non-halal. Karuan saja tim yang lain agak-agak anti kalo disuruh makan Loenpia, walaupun beli di luar Pecinan. Tapi akhirnya ada juga kok Loenpia yang halal. Loenpia Mbak Lin di Jalan Pemuda deket Toko Oen. Aku sempat memastikan ke temanz yang liputan apakah itu halal, dijawab halal, sebab Mbak Lin seorang muslimah. Hanya saja harganya Ruarrrr Binazzza!!!! Rp. 6000 untuk sebiji Loenpia. Wekkkkk, perlu duit berapa kalo buat oleh-oleh???

Deket Loenpia Mbak Lin ada Toko Oen yang sudah establish dari tahun 30-an. Terkenal akan es krimnya yang memang saat ku cicip, aku nambah dua mangkok dan masih nyolong-nyolong cicip punya temanz yang lain. Deket Toko Oen di samping Toko Batik ada toko yang menjual barang-barang antik, namanya La Vogue punyanya Pak Ming. Begitu kita masuk ke tokonya ingatan berputar pada film seri horor Friday 13th, yang dulu ditayangin di TVRI. Agak spooky, suram dan yang jelas berdebu. Tokonya dipenuhi barang-barang tua, mulai dari koin Cina yang walaupun kecil tapi berat, foto tua, lukisan tua, sampe furniture dan mesin jahit serta kaleng-kaleng bekas kemasan dari jaman Belanda. Ga tau mereka dapetnya darimana, tapi menurutku wajar aja, lha wong kawasan Jl. Pemuda dulunya adalah kawasan utama di Semarang. Dahulu kawasan ini namanya Bodjong, dan di penuhi gedung-gedung tua. Di toko ini aku ga beli apa-apa, hanya mengantar reporterku yang baik hati beli foto kuno, Malioboro tahun 1938 sama Braga tahun 30-an. Cukup murah untuk ukuran repro dan di cetak 20R, sebiji harganya 40.000. Tentunya dengan tawar menawar harga pas tancap gas…

Deket situ ada juga Istana Wedang. Letaknya deket Hotel Novotel. Di toko ini ada beberapa jenis wedangan yang uenax tenan. Cobain aja berbagai macam wedang. Kalo wedang jahe biasa kita bisa bikin di rumah dan rasanya "biasa" juga. Tapi gimana kalo wedangnya ada jelly dan buah Lengkeng??? Yummyyyy…Tapi ku ga berenti lama di Istana Wedang, sebab temanz yang lain yang kebagian bikin paketnya. jadi cuma cicip aja punya temanz itu. Dan langsung mau balik lagi, tapi ga kesampaian sampai aku akhirnya pulang. Next time pasti ku ke sana….

Well, aku nulis ini persis sesaat setelah pulang ke Jakarta dan di kantor jam 9 malem. Masih banyak kok, tenang aja. Mulai dari makanan, jalan-jalan, sampai kisah seru selama di Semarang. Meski panas, Semarang bikin terkenang.

Bersambung deh….

Raja Minyak

Tuesday, September 5th, 2006

Hari ini aku mendapati beberapa temanz berwarna-warni. Rapat besar dengan jajaran Lt.3 dan petinggi dari Lt.9 menghasilkan keputusan mengangkat 3 orang eksekutif produser baru. Dan, keriuhan mulai menggema ketika nama-nama yang diberi tugas baru memberikan kata sambutan. Intinya, mereka siap bekerja melaksanakan tugas yang telah diberikan pimpinan kepada mereka, untuk kemudian dibebankan lagi kepada para bawahannya, dan yang paling "beruntung" adalah para kru lapangan yang semakin hari semakin berpeluh semangat demi mengejar sederet angka-angka share.

Sebelumnya, aku juga orang yang beruntung. Paling tidak hari ini bener-bener tidak ada tugas yang menyita pikiran dan waktu serta fisik. Sehari ini aku sampai bosen ngenet karena kebanyakan bengong. Ngobrol dengan sesama penghuni lt.3 yang diobrolin itu-itu aja. Refreshing sedikit mencari bahan obrolan, 2 penghuni musiman Lt.3 menjadi teman hangat ngobrol.

Dua orang ini kebetulan sama-sama satu kampus, sama-sama satu kelas, dan sama-sama satu angkatan. Entah kenapa mereka juga sama-sama menjadi penghuni musiman Lt.3, meski yang satu masuk lebih dahulu. Bedanya, yang satu ikut programku, yang lain di Good Newzz. Tapi keduanya memberi pemandangan baru di Lt.3. Tapi hanya satu yang memberikan kesegaran tersendiri….

Ngobrol menjelang maghrib di LG bahas banyak hal. Yang jelas, terlihat bagaimana semangat anak muda masa kini menghadapi tekanan kerja. Ada yang masih terlihat semangat, ada juga yang terlihat kapok. Ada yang terlihat rajin dateng pagi, ada juga yang kesulitan bangun pagi. Beragam lah…Mudah-mudahan saja mereka tidak tertarik iming-iming menjadi Raja Minyak dengan cara instan, cepat dan mudah. Semua butuh proses, dan proses itu harus kita jalani, suka atau tidak. Jalani saja, sesekali lari dari permasalahan juga tidak apa-apa. Tetapi, tetap hadapi itu sebagai bunga hidup.

Apa yang kusebut bunga-bunga kehidupan adalah ketika jalan hidupmu tidak melulu lurus layaknya jalan tol. Ikuti lajurnya, tatap kedepan sesekali lirik kiri-kanan, tanpa pernah mencoba mencari jalan yang belok-belok. Hidup itu tidak saja berisi bangun pagi, aktifitas, pulang, tidur malam, bangun pagi lagi dst…

Atau juga tidak berisi, kecil disuka, muda terkenal, tua kaya raya, mati masuk liang kubur. Banyak hal yang membuat hidup kita berwarna. Cobalah sesekali melenceng dari arus, coba jalan yang berbeda, cari tantangan. Dengan demikian, kita semakin menghargai hidup dan kehidupan. Kita akan belajar mengerti bahwa hidup itu ada tujuan, dan untuk meraihnya kita harus belajar, berjuang dan berproses. Jadi jalani saja proses itu dengan jalan yang lebih berwarna-warni.

Warna-warni penghuni musiman Lt.3 semakin berkurang. Ada yang sudah menyelesaikan tugasnya, ada juga yang masih setia menghadapi rutinitas. Hanya, yang ini meninggalkan kesan misterius…

Monday, September 4th, 2006

Lantai tiga makin sepi malam ini. Selain memang sudah waktunya para kuli kamera pulang, beberapa rekanz dipindahtugaskan ke stasiun tivi lain, yang masih sodaraan. Dan yang dipindahtugaskan adalah orang-orang yang memiliki performa bagus, ga neko-neko, friendly, mentor yang baik. Baru beberapa bulan di sini aja aku sudah merasa kehilangan mereka, apalagi yang udah bertahun-tahun kerja bareng. Dan isu semakin gencar di lantai tiga ini, bahwa beberapa segera menyusul rekanz yang dipindahtugaskan. Untuk bantu membantu membenahi pemberitaan di stasiun tivi yang sodaraan itu.

Langkah awalnya aja sudah diumumkan. Pertama soal Sign Off. Itu tu, kalimat terakhir naskah yang nyantumin nama reporter, campers, trans tv, dan lokasi. Sekarang minus nama stasiun tivi, karena berita kita nantinya bisa dinikmati juga pemirsa stasiun tivi yang sekarang sodaraan itu. Kedua, di stasiun tivi yang skarang sodaraan itu news-nya sudah sedikit meniru konsep sodaranya. Mulai dari OBB, gambar, sampe judul program yang agak-agak mirip. Ketiga, tim creative news Trans TV mendapat tugas “sampingan”, yaitu ikut memantau perkembangan program di stasiun tivi yang sekarang sodaraan itu. Padahal …. ga naik ya bo’…. Tenang temanz, yang penting tetap sehat, tetap semangat, supaya bisa tetep jalan-jalan dan makan-makan….

Dan pada akhirnya stasiun induk akan bergantung sepenuhnya pada kita nih yang baru-baru. Jadi temanz BDP 6 News akan jadi ujung tombak lantai tiga. Itu kata jajaran papan atas. Jadi semoga aja kalo masih pada bertahan, rolingan depan bisa aja ada yang langsung Asprod… AAAAAAMIIIIIEEEEENNNNN…….

Semakin sepi nih, dan semua yang masih on berlomba memperbesar volume musik. Sambil curi-curi buka Friendster, kondisi lantai tiga ramai oleh musik. Aku sendiri menikmati Sayidan- nya Shaggy Dog….

Angkat s’kali lagi gelasmu kawan…..