Denias
Tuesday, October 31st, 2006
Hari ini kesampaian juga nonton salah satu film yang bermutu buatan dalam negeri. Film yang ku tonton adalah Denias, Senandung Di Atas Awan. Film ini terasa istimewa, sebab dibuat di Papua, dan talent-nya juga kebanyakan orang asli Papua. Dan, tentu saja, eksplore gambar keindahan alam Papua terekam indah dan dramatis. Nyaris, keindahan Papua yang identik dengan puncak Es di Katulistiwa terekam semua.
Film ini diangkat dari kisah nyata Janias yang memiliki tekad untuk sekolah. Janias sendiri kini bersekolah di Australia, berkat beasiswa dari PT. Freeport Indonesia. Kisah tentang tekad seseorang untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi terasa menjadi setitik oase di tengah gempuran film-film buatan Indonesia bertemakan horor ataupun percintaan ala ABG.
Denias (Audrey Papilaya), dikisahkan sebagai anak petani di pedalaman Papua. Dia bersekolah di sekolah darurat yang didirikan oleh Pak Guru (Mathias Muchus), yang asli Jawa. Dengan semangat menggebu, Denias berangkat sekolah, meski harus menempuh perjalanan yang melelahkan. Satu saat Pak Guru harus kembali ke tanah Jawa, sebab istrinya sakit keras. Dan guru pengganti akan datang tiga bulan kemudian. Namun, hati keras Denias yang ingin belajar, memaksa Maleo (Ari Sihasale), seorang anggota TNI dari kesatuan Kopassus, mengajar dengan mendirikan sekolah darurat, karena sekolah darurat peninggalan Pak Guru rubuh oleh gempa. Pendirian sekolah darurat oleh Maleo ditentang oleh kepala suku setempat.
Di sisi lain, Denias juga memiliki "musuh" yakni Noel, anak kepala suku yang sering menantang Denias berkelahi. noel seringkali mengejeknya dengan mengatakan bahwa yang bisa bersekolah di balik bukit adalah anak orang yang memiliki kedudukan. Karena ayah Noel adalah kepala suku, maka Noel lebih dulu bisa bersekolah di Balik Bukit.
Keinginan besar Denias untuk sekolah di dorong oleh pesan ibunda Denias sebelum meninggal, bahwa "Kamu harus sekolah, supaya bisa bikin sembuh mama". Ironisnya, ibunda Denias meninggal akibat kesalahannya sendiri. Ketika ingin bermain, Denias menanggalkan bajunya di dekat perapian di Honai yang ditiduri ibundanya. Baju tersebut jatuh, dan mengakibatkan honai terbakar, dan menyebabkan ibundanya meninggal. Denias merasa bersalah, sangat bersalah. Namun, Maleo menjadi pelecut semangat belajar Denias. Maleo selalu berpesan, tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini.
Sampai pada akhirnya, Denias menembus pedalaman dengan susah payah, sampai akhirnya bertemu Enos. Dengan tekad bulat, Denias mendekati Ibu Guru Sam (Marcella Zalianty) untuk bisa berkompetisi dan bersekolah seperti orang lain. Namun, jalan terjal kembali menghadang. Beberapa guru dan pengelola Yayasan sekolah tersebut tidak menginginkan Denias bersekolah dan menempati asrama karena bukan anak kepala suku. Satu hal yang ironis, mengingat banyak kita jumpai pernyataan bahwa orang Papua diperlakukan tidak adil, tetapi justru mereka lebih tidak adil lagi dengan saudara terdekatnya.
Secara utuh, film ini memberikan pemahaman kepada kita untuk selalu berusaha mengejar apa yang kita inginkan, meski itu menempuh bahaya sekalipun. Film ini juga memberikan penekanan bahwa tidak semua Tentara yang di tugaskan menjaga Papua (baca: Kopassus) tidak peduli dengan nasib saudara sebangsanya. Hal ini bisa terlihat dari karakter Maleo. Karakter orang-orang Papua pedalaman juga terekam kental, seperti meyakini bahwa tugas anak lelaki adalah membantu orang tua, bukan belajar.
Namun, beberapa cast menurutku agak di paksakan. Seperti Ibu Guru Sam yang berdandan (menurutku) terlalu modis, dan sangat cantik pula. Jadi terlihat berlebihan, adanya modernitas dan sadar fashion di tengah kemiskinan yang menjerat sebagian besar orang Papua. Kalo guru SD ku dulu kaya gitu, aku pasti rajin sekolah, dan ga pernah telat….
Terakhir, terima kasih pada seseorang yang manis dan baik hati, yang menyempatkan waktunya untuk menonton film ini bersamaku. Meski harus nyolong-nyolong waktu. Besok-besok, kita nonton horor…Iiiih, syerem…
Selamat malam…

