Archive for October, 2006

Denias

Tuesday, October 31st, 2006

Denias_film_35077_f_27215 Hari ini kesampaian juga nonton salah satu film yang bermutu buatan dalam negeri. Film yang ku tonton adalah Denias, Senandung Di Atas Awan. Film ini terasa istimewa, sebab dibuat di Papua, dan talent-nya juga kebanyakan orang asli Papua. Dan, tentu saja, eksplore gambar keindahan alam Papua terekam indah dan dramatis. Nyaris, keindahan Papua yang identik dengan puncak Es di Katulistiwa terekam semua.

Film ini diangkat dari kisah nyata Janias yang memiliki tekad untuk sekolah. Janias sendiri kini bersekolah di Australia, berkat beasiswa dari PT. Freeport Indonesia. Kisah tentang tekad seseorang untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi terasa menjadi setitik oase di tengah gempuran film-film buatan Indonesia bertemakan horor ataupun percintaan ala ABG.

Denias (Audrey Papilaya), dikisahkan sebagai anak petani di pedalaman Papua. Dia bersekolah di sekolah darurat yang didirikan oleh Pak Guru (Mathias Muchus), yang asli Jawa. Dengan semangat menggebu, Denias berangkat sekolah, meski harus menempuh perjalanan yang melelahkan. Satu saat Pak Guru harus kembali ke tanah Jawa, sebab istrinya sakit keras. Dan guru pengganti akan datang tiga bulan kemudian. Namun, hati keras Denias yang ingin belajar, memaksa Maleo (Ari Sihasale), seorang anggota TNI dari kesatuan Kopassus, mengajar dengan mendirikan sekolah darurat, karena sekolah darurat peninggalan Pak Guru rubuh oleh gempa. Pendirian sekolah darurat oleh Maleo ditentang oleh kepala suku setempat.

Di sisi lain, Denias juga memiliki "musuh" yakni Noel, anak kepala suku yang sering menantang Denias berkelahi. noel seringkali mengejeknya dengan mengatakan bahwa yang bisa bersekolah di balik bukit adalah anak orang yang memiliki kedudukan. Karena ayah Noel adalah kepala suku, maka Noel lebih dulu bisa bersekolah di Balik Bukit.

Keinginan besar Denias untuk sekolah di dorong oleh pesan ibunda Denias sebelum meninggal, bahwa "Kamu harus sekolah, supaya bisa bikin sembuh mama". Ironisnya, ibunda Denias meninggal akibat kesalahannya sendiri. Ketika ingin bermain, Denias menanggalkan bajunya di dekat perapian di Honai yang ditiduri ibundanya. Baju tersebut jatuh, dan mengakibatkan honai terbakar, dan menyebabkan ibundanya meninggal. Denias merasa bersalah, sangat bersalah. Namun, Maleo menjadi pelecut semangat belajar Denias. Maleo selalu berpesan, tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini.

Sampai pada akhirnya, Denias menembus pedalaman dengan susah payah, sampai akhirnya bertemu Enos. Dengan tekad bulat, Denias mendekati Ibu Guru Sam (Marcella Zalianty) untuk bisa berkompetisi dan bersekolah seperti orang lain. Namun, jalan terjal kembali menghadang. Beberapa guru dan pengelola Yayasan sekolah tersebut tidak menginginkan Denias bersekolah dan menempati asrama karena bukan anak kepala suku. Satu hal yang ironis, mengingat banyak kita jumpai pernyataan bahwa orang Papua diperlakukan tidak adil, tetapi justru mereka lebih tidak adil lagi dengan saudara terdekatnya.

Secara utuh, film ini memberikan pemahaman kepada kita untuk selalu berusaha mengejar apa yang kita inginkan, meski itu menempuh bahaya sekalipun. Film ini juga memberikan penekanan bahwa tidak semua Tentara yang di tugaskan menjaga Papua (baca: Kopassus) tidak peduli dengan nasib saudara sebangsanya. Hal ini bisa terlihat dari karakter Maleo. Karakter orang-orang Papua pedalaman juga terekam kental, seperti meyakini bahwa tugas anak lelaki adalah membantu orang tua, bukan belajar.

Namun, beberapa cast menurutku agak di paksakan. Seperti Ibu Guru Sam yang berdandan (menurutku) terlalu modis, dan sangat cantik pula. Jadi terlihat berlebihan, adanya modernitas dan sadar fashion di tengah kemiskinan yang menjerat sebagian besar orang Papua. Kalo guru SD ku dulu kaya gitu, aku pasti rajin sekolah, dan ga pernah telat….

Terakhir, terima kasih pada seseorang yang manis dan baik hati, yang menyempatkan waktunya untuk menonton film ini bersamaku. Meski harus nyolong-nyolong waktu. Besok-besok, kita nonton horor…Iiiih, syerem…

Selamat malam…

All About Racism

Monday, October 30th, 2006

Entah kenapa aku suka sekali menonton film dengan tema-tema yang sedikit mikir. Apalagi kalo nonton film yang nyangkut-nyangkut anti rasisme, terlebih buatan Holywood. Film macam Mississipi Burning, Rosewood, atau Crazy in Alabama itu aku suka banget nontonya. Dari film-film tersebut aku tahu bahwa kampanye dan gembar-gembor anti rasis masih sekedar slogan dan bualan.

Di AS, negara yang katanya menjunjung tinggi demokrasi dan perbedaan pendapat, isu rasisme masih kental. Terlebih di kantung-kantung imigran Afro-American seperti Mississipi, Alabama, sebagian dari Los Angeles, Dakota, sampai Chicago. Kalau New York dsk dikuasai oleh keturunan Irlandia dan Italia, serta Miami, Texas yang di dominasi Latino, maka daerah yang disebut di awal di dominasi oleh Negro. Tapi dominasi negro hanyalah dominasi populasi, bukan pada dominasi kehidupan. Seringkali mereka dipinggirkan, di tekan karena perbedaan warna kulit, bila beruntung hanya mendapat teror. Jika apes, ya di bunuh.

Gambaran kekejaman Kulit Putih terhadap Negro Amerika tergambar jelas pada Rosewood dan Mississipi Burning. kedua film ini jelas nyata menggambarkan keadaan AS masa kegelapan yang penuh dengan isu rasisme. Pada Rosewood isu berkembang seputar pembebasan lahan milik Kulit Hitam yang dipaksakan untuk membuat jalur transportasi Kereta Api. Persoalannya bukan pada ketidakmauan si pemilik lahan yang kebetulan berkulit hitam, tetapi pada ketidak-transparan para pembeli lahan untuk jalur tersebut yang memicu perselisihan. Hingga timbul gesekan dan bentrokan berdarah yang paling mengerikan dalam sejarah hitam AS.

Pada Mississipi Burning malah terlihat jelas, bahwa Kulit Putih adalah keturunan sah dari Kristen yang sejati, sehingga membunuh negro merupakan perjuangan yang akan mendapat surga. Di film ini juga terkenal dengan gambaran Klu KLux Klan, yaitu sekelompok Kulit Putih yang sangat anti dengan negro. Modus operasinya seperti diketahui, memakai cadar putih, dan membakar salib di depan rumah orang kulit hitam. Hal-hal demikian mengingatkan pada perilaku orang Indonesia sekarang.

Apa yang digambarkan dalam film-film soal anti rasis memberikan pemahaman bahwa kebebasan yang ada masihlah kebebasan semu. Namun, film-film itu juga memberikan pelajaran berharga, bagaimana seharusnya kita menghargai orang lain tanpa membedakan warna kulit, golongan, agama, ras, suku bangsa, atau apapun namanya yang memang berbeda.

Seperti kutipan dalam Crazy in Alabama:

"Hidup dan Mati adalah sementara, tetapi kebebasan (mestinya) berlaku selamanya…"

Puasa

Wednesday, October 25th, 2006

Img_0016 Rutinitas pada bulan ramadhan kemarin selain menunggu waktu berbuka adalah berkumpul bersama temanz. Orang-orang yang ada pada gambar di samping ini adalah temanz saat SMU. Sudah lama tak sua kawan, semoga berkumpul dan buka puasa bersama kalian semua bisa berlanjut, meski yang jelek-jelek udah pada kawin duluan…

Dan sekarang, mumpung masih momennya Lebaran, aku mengucapakan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1247 H, Mohon Maaf Lahir Bathin atas segala salah dan khilaf…

Maafin ya….

Sukarsa Cup

Wednesday, October 18th, 2006

Liat ni foto di milis temanz SMA jadi teringat masa muda. Katanya si masa SMA penuh dengan kenangan manis. Tapi bedanya masa SMA ku biasa-biasa aja. Pinter si ngga, bandel juga dikit-dikit. Tapi masa SMA aku belajar hidup, meski sepotong-sepotong biar bisa ngerti.213

Foto ini adalah foto tim kelasku saat semifinal Piala Sukarsa. Ga ada fotoku?? Emang, lha wong telat datengnya. Soal telat memang aku rajanya…Sejak pake seragam putih merah, telat adalah makanan sehari-hari. Sampai seorang temanz memuji lewat FS, kalo aku jangan diharapkan untuk bangun pagi. Balik lagi, orang-orang yang tampak pada foto ini adalah super team saat itu. Ya iyalah, lha wong juara, meski cuman antar kelas, tapi gengsinya itu.

Pada masa itu ada kelas yang timnya jadi tim ter fair play lantaran rela gawangnya selalu kebobolan. Ada juga yang mengklaim timnya sebagai tim ter favorit (kalo ga salah) cuman gara2 ketua panitianya adalah bagian dari warga kelas itu. Bagiku inilah the dream team SMA ku saat itu, meski ga ada satupun yang mengakuinya…

Jaman SMA lebih banyak bolosnya ketimbang belajar. Termasuk soal Pertandingan Bola di Turnamen Piala Sukarsa. Selama turnamen berlangsung, ada pertandingan yang dijalankan pagi hari karena kelasku masuk siang, dan sore hari hari bagi kelas pagi. Setiap ada pertandingan tim kelas pagi, ku ga pernah di sekolahan. Yang ada jadi pemanjat dinding sekolahan. Yang masuk siang selalu kebagian upacara di Sabtu, dan aku cuma sekali-sekalinya upacara di Hari Sabtu. Saat itu pembagian piala juara…Selebihnya jadi pemanjat dinding.

Hmm, masa SMU penuh dengan kesenangan, termasuk kesenangan masuk hutan jelajah rimba dan lembah. Kangen…

Terima Kasih

Sunday, October 15th, 2006

Terima Kasih atas hari ini,
Terima Kasih atas semuanya,
Terima Kasih untukmu.

Selamat Tidur…

Office Hour

Friday, October 6th, 2006

Beberapa waktu lalu sempat ngobrol bersama temanz di LG a.k.a Luar Gerbang. Temanz ini mengutarakan niatnya untuk resign dari kantor, dan pindah kerja kemana aku belum tahu. Resign-nya temanz memang menjadi hak prerogatif bagi temanz dan seluruh pekerja, karena itu merupakan pilihan. Entah memilihnya karena gaji kecil, suasana kerja yang tidak kondusif atau karena hal-hal yang sifatnya pribadi. Di kantor ku itu dilarang insest, alias menikah dengan rekanz sekantor. Kalau sampai kejadian, ya salah satu harus legowo mengundurkan diri alias resign. Sedikit aneh si alasannya kalau menurutku, masa’ orang nikah mesti diatur kantor, diatur negara aja udah ribet, ini mesti dihadapkan pada alasan conflict of interest kalo suami-istri berantem akan berimbas pada kerjaan. Padahal, aku yakin, banyak juga yang lagi bermasalah di rumah dan kebawa juga ke pekerjaan meski pasangannya ga satu kantor. Apapun itu, namanya aturan ya pilihannya tinggal di taati atau dilanggar aja. Simple kan??

Satu hal yang menarik perhatian kala temanz ini mengungkapkan keinginannya untuk resign adalah aturan kantor yang tidak jelas soal jam kerja. Beberapa dari rekanz kerjanya terbilang workaholic , dan tidak memandang waktu kerja adalah sesuatu yang penting. Joke di kantorku kalo ada orang yang pulang cepet selalu “…jam segini udah pulang???” padahal itu jam 12 malam dan kerja dari pagi buta. Nah si temanz ini kemudian “melawan” arus mainstream di kantorku dengan berargumen “…ooo, di kantor ini ada jam masuk tapi ga ada jam keluar ya…?”. Jadi ya kalo udah kerja sesuai dengan peraturan kerja resmi pemerintah yang 8 jam sehari, temanz langsung pulang. Tetapi tampaknya, cibiran demi cibiran dan tekanan berlebih membuat temanz tidak kuat. Maka keluarlah niat resign dengan tulus….

Bagiku, terjun di bidang penyiaran, terlebih broadcast television dihadapkan pada realita bahwa di dunia komunikasi yang satu ini tidak mengenal Office Hour, maka aku sudah siap dengan segala konsekuensinya. Tetapi konsekuensi ternyata belum cukup, dengan argumen temanz yang demikian kita harus juga berfikir bahwa hidup tidak hanya di isi dengan kerja, kerja, kerja, dan tanggal 28 ngantri di ATM. Bahwa ada lingkungan di sekitar kita yang perlu “di lirik”, perlu bersosialisasi, perlu urus diri sendiri, perlu untuk istirahatkan otak dan jiwa. Jadi ga melulu lurus ngurusin kerjaan. Susah memang ngakalin agar kita, termasuk aku, yang bekerja di industri ini untuk bisa melepaskan lelah sejenak, berfikir tentang hidup sejenak, lupakan rutinitas sejenak, dan bisa menikmati hiburan yang jenaka sejenak pula. Office Hour memang menjadi masalah besar bagi orang-orang yang bekerja di industri ini tetapi masih memiliki idealisme pada diri sendiri, bukan pada kepentingan industri. Teorinya 8 jam sehari, tapi aku ga pernah dapet prakteknya. Tapi sutralah, sekali lagi ini konsekuensi, tinggal aku yang kelimpungan untuk ngakalinnya.

Seperti hari ini di Tebet, pantau editing sampe besok pagi….
Realita dan konsekuensi, tinggal menunggu mati….

HELL…!!!

Tuesday, October 3rd, 2006

Hari ini serasa di neraka. Pwanaznya Jakarta itu loh yang bikin kepala senat-senut, tenggorokan kering, gigi menguning, dan membuat kita berhalusinasi. Yup, halusinasi adalah bagian dari pekerjaanku selama puasa ini. Dari yang namanya taping Wisata Kuliner di Mall yang otomatis banyak "pemandangan" ajaib, sampai berpanas ria di tengah teriknya matahari. Lama-lama berfikir juga kenapa si hari punya mata. Tujuannya ya itu, buat meltotin manusia yang punya aktivitas di siang hari…. Halusinasi memang menjadi bagian dari pekerjaan dan rutinitask belakangan ini. Semakin menghebat dikala puasa. Kalo taping siang bocor kaya tadi, selalu kebayang di kepala : ES DEGAN PAKE GULA JAWA. Atau tadi malah sempet berkhayal, kenapa kita ga berenang rame-rame aja, ata berendam, atau apa ke’ yang menyegarkan. Hari ini wujud dari representasi neraka secara kecil…. Welcome to the hell of life, my friends!

Lelah

Sunday, October 1st, 2006

Aku lelah saat ini
ingin segarkan pikiran
ingin segarkan tubuh
ingin segarkan jiwa raga

Aku ingin
Ke gunung menikmati alam
Ke hutan rasakan lembab tanahnya
Ke pantai saksikan matari terbenam
atau ke mana saja
menjauh dari sini
barlari sejenak dari keumitan rutinitas yang melelahkan

Aku rindu
Semilir angin pegunungan
Rindangnya hutan lebat
Hangatnya pasir pantai

Kemana ku melangkah demi waktu luangku…
Terbentur tembok yang kasat mata
Aku rindu semua masa lalu ku