Archive for November, 2006

Kebun Binatang

Wednesday, November 22nd, 2006

Hari ini nama-nama penghuni kebun binatang meluncur deras dengan sempurna dari mulutku. Seharian berkutat dengan kesulitan liputan, malah di mentahin pejabat yang sok berkuasa. Segala printilan prosedur udah dijalanin, tinggal nemuin TSK yang dititipin di salah satu rutan di Jakarta Timur, eh, di mentahin gitu aja. Aaaarrrghhhhhh, keparat tu Sipir!!!!!

Kemarin

Tuesday, November 21st, 2006

Kemarin aku tak menatap wajahnya…

I miss my hand gun…

Friday, November 17th, 2006

Pagi itu teleponku berdering dalam perjalanan ke kantor. Nomornya familiar, 791….dan itu berarti kantor. Ternyata Om Rozaq, alumnus Wisata Kuliner juga yang sekarang jadi Asisten Produser. Dalam teleponnya, Om Rozaq memintaku jadi reporter, sebab jatah reporter kurang. Merasa mendapat tantangan segera saja kusanggupi. Dan jadilah hari itu aku menjadi reporter, tepatnya, Rabu 15 Nopember 2006.

Kasus pertamaku adalah KDRT di Tanjung Duren Jakarta Barat. Jadi reporter pertama kali membuatku sedikit gugup, pasalnya mau tidak mau harus berhadapan dengan banyak orang, tanpa mempedulikan mereka, kecuali Stories. Kasus ini menurut Pak Kanit tidak dilanjutkan, karena sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Meski TSK udah di tangkap, namun pihak keluarga bersikeras untuk membawanya pulang ke rumah. Padahal kasusnya cukup serius, gara-gara 63.000, adik ipar si TSK di lempar golok. Akibatnya, wajah si Adik Ipar mendapatkan perawatan intensif. Sayangnya juga, keluarga korban (yang juga keluarga TSK) tidak bersedia dimintai keterangan, dengan alasan ini masalah keluarga.

Hari kedua jadi reporter aku ditugaskan liputan di Polsek Cakung. Kali ini adalah tewasnya pemuda karena minum anggur. Menurut Tante Yuli Lopes, kasus-kasus kayak gini harusnya menjadi spesialisku. Menurutnya aku cukup akrab dengan dunia "mendem". Tapi tidak juga, kali ini mentok lagi karena tidak ada unsur pidana atau kejahatan. Si Korban tidak diketahui membeli minuman dimana, dan barang buktinya cuma plastik bekas pembungkus minuman. Sementara minumannya udah habis ditenggak (angkat s’kali lagi gelasmu kawan…). Menurut Pak Kanit, Korban sebelum minum anggur terlebih dahulu minum obat sakit kepala. Lantas, sempat di kerok sama pacarnya, tetapi si Korban tetap minum anggur, bahkan pacarnya juga diajak. Si Korban tewas, si Pacar selamat. Jadi asumsinya si Korban tewas karena ada konstraksi (apaan si ni..?) karena sebelumnya minum obat sakit kepala. Beli dimana juga polisinya ga tau. Secara di visum juga ga mau keluarganya, jadi polisi ga mau nerusin kasusnya…Akhirnya kami berdua liputan jurnalis TV mati….mati gaya di Polsek Cakung!!

Dan, hari ini aku liputan ke Polres Jakarta Utara. Kali ini soal dua ABG menipu HP. Tapi sayang mentok lagi di Kapolres. Sebab pak Kapolres lagi rapat soal keamanan Jakarta di Polda, jadi Pak Kasat yang ramah ga berani melangkahi wewenangnya. Jadilah tiga hari ini kami jadi warga lantai tiga yang MUNTABER…Muncul Tanpa Berita!!

Tiga hari menjadi reporter, aku menyadari bahwa tugasnya sangat berat. Melobi narasumber, gesit selip-selip cari info, sampai sedikit bermuka manis sama abang-abang di Polsek adalah tugas yang ga gampang! Sumpah, beraaatttttt banget. Perlu kekuatan hati dan mental, muka tebel, tahan malu, dan ga gampang nyerah. Pada akhirnya, tiga hari ini aku belajar banyak soal liputan berita televisi yang memang harus ada kesatuan pikiran antara reporter sama cameraman. Kalo ga, ga bakal jadi tayangan yang indah!! Kalo berhasil si, sueneng. Tapi ini tiga hari gagal terus…..

Tiga hari ini i miss my hand gun…

Kembalikan kamera itu padaku, ingin sekali aku memeluknya….

Suatu Malam di Ruang Makan

Wednesday, November 15th, 2006

Suatu malam di ruang makan

Malam itu

kamu duduk dihadapanku

Meski suasana ramai tumpah ruah

mirip plasa kampus seni yang kita datangi tempo hari,

aku tetap bisa mendengarmu bicara

tentang suka duka, omong kosong kehidupan,

Bualan-bualan masa depan,

sampai cita-cita yang semestinya tetap tertanam di batin.

Kadang tertawa, tergelak ketika sampaikan suka cita,

kadang juga berubah muram ketika ungkapkan keluh kesah

Atau malah diam membisu seakan

Kata-kata menari di langit-langit ruang makan itu

Tak mampu kamu tangkap dengan jaring pikiranmu…

Malam itu…

Aku duduk di hadapanmu

meski suasana riuh rendah mirip jalan raya

yang trotoarnya kita lintasi hampir setiap hari,

kamu tetap bisa mendengarku bicara

Akan nasihat-nasihat tak bermakna, kata semangat yang tak nyata,

petuah picisan sok bijak, sampai karut marut pemikiran

yang tidak kamu pahami sama sekali.

Aku juga tertawa, tergelak ketika sampaikan suka cita

Aku juga berubah murung ketika ungkapkan keluh kesah

Atau malah diam membisu, biarkan mataku

menjelajah wajahmu berusaha selami pikiran dan hatimu…

Suatu hari di ruang makan…

Aku menikmati setiap detik waktu bersamamu

melupakan setiap beban hidupku

bangkitkan harapan semu jiwaku

Malam itu…

Hanya udara yang membatasi kita

selebihnya tidak!

Your name is an ancient Sanskrit word meaning spiritual delight, joy, gratitute.

Pantas saja selalu menyenangkan berada di dekatmu…

**Lantaitiga, 16 Nopember 2006**

Tentang Seseorang…

Tuesday, November 7th, 2006
Your name is an ancient Sanskrit word meaning spiritual delight, joy, gratitute.
Pantas saja selalu menyenangkan berada di dekatmu…

Oleh-oleh tak Terduga

Tuesday, November 7th, 2006

Malam semakin mendekati larut di Lantai Tiga. Setelah berjam-jam duduk di LG membaca buku kisah hidup Joe Simpson, Touching The Void, aku beranjak kembali ke lantai ini. Seharian penuh di kantor sampai bosan membuatku malas untuk berlama-lama di kantor. Namun, apa daya, keinginan untuk pulang gratis lebih kuat ketimbang buru-buru istirahat di rumah…

Dengan sedikit tersenyum ramah, aku menjumpai rekanz Wisata Kuliner yang baru pulang dari rutinitasnya, taping bersama BW mengunjungi berbagai tempat makanan di Jakarta. Setelah mencoba mencari oleh-oleh khas, aku malah diberi oleh-oleh dari orang yang tak ku duga sama sekali, BW. Beliau memberiku Jaket Polo warna hitam oleh-oleh dari Thailand. Sementara pada Wiskul Girls mendapat kain khas Thailand. Semuanya kebagian, kru Wisata Kuliner News, PF, sampai driver rental. Ga nyangka, BW masih ingat pada tim ini di masa liburannya di Thailand.

Terima kasih Pak BW, semoga makin ma’ nyuss….dan tetap semangat, tetap tabah buat tim yang baru bergabung. Poko’e ma’nyuss…..

Perempuan Suci

Tuesday, November 7th, 2006

Mizanperempuansuci Sebenernya mau nulis tentang satu buku yang belum kubaca habis. Judulnya Perempuan Suci (The Holy Women) karya Qaisra Shahraz.  Buku ini adalah sepenuhnya fiksi, kisahnya tentang wanita modern Pakistan yang terkungkung dalam dunia patriarkat dan tradisi keluarga turun-temurun. Jelasnya belum bisa kuceritakan di sini. Sebab, buku ini masih di baca oleh seseorang yang cantik dan baik hati. Entah sampai kapan kamu bisa menyelesaikan buku ini, sebab selalu murder by request. mBo’ sekali-sekali gitu requestnya yang di murder…..

Penulisnya adalah perempuan terpelajar Pakistan, yang hidup dalam dunia pendidikan barat yang sekuler. Dalam novel ini Qaisra mampu menghadirkan sikap feminitasnya dalam perjuangan melawan perbedaan gender. Saking bagusnya novel ini, Perempuan Suci diganjar penghargaan Jubilee Award 2002 oleh Asian Times, yang menyebu buku ini sebagai cerita yang menawan tentang cinta, ketamakan dan kecemburuan. Kalau boleh kutambahkan, juga tentang kesetiaan dan pengorbanan tertinggi dari perempuan terpelajar secara peradaban namun tertindas secara kultural. Qaisra sendir datang awal Oktober ke Indonesia untuk menghadiri peluncuran bukunya dalam Bahasa Indonesia. Bagi yang belum baca, bacalah, kelak kita akan menghargai bagaimana peran perempuan sesungguhnya….

Ah,…lain kali saja review bukunya. Biar seseorang yang cantik dan baik hati menyelesaikannya lebih dulu…

Selamat membaca…

Cerita Pagi

Monday, November 6th, 2006

Hari ini, Senin 6 Nopember 2006 adalah liputan pertamaku di program Cerita Pagi. Nyaris lupa oleh seluruh teori liputan yang di ajarkan para mentorku di Akademi Tendean ini soal liputan Bulletin and Current Affairs, aku menjalani hari pertama di Cerita Pagi dengan senang hati. Meski sedikit masih sakit gigi, liputan harus kujalani.

Liputan kali ini adalah follow up soal kejahatan curanmor. Korbannya adalah siswi SMU yang berusaha mempertahankan motor CBR milik sang kekasih saat para pelaku mencoba untuk memilikinya. Si Korban dengan garang melempar pelaku dengan gelas, akibatnya pelaku meletupkan peluru tajam sebanyak 3 kali sebagai peringatan agar korban tidak menyerang. Namun, salah satu gelas nampaknya mengenai wajah pelaku, hingga pelaku kalap. Sudah meninggalkan TKP, pelaku kembali untuk menghadiahi Korban dengan sebuah peluru tajam yang bersarang di paha bagian atas. Korban saat ini dirawat di RS. Polri Kramat Jati, dan menolak untuk di wawancarai oleh kami. Bahkan, si Cowok dengan dingin dan arogan tidak bersedia diwawancarai, kecuali dijanjikan jadi artis oleh kami. And Hanum says: "Wajahlu ga pantes jadi artis!!!!"

Dari pagi aku dan Dewi, reporterku, menuju TKP yang dimaksud. Tujuan pertama adalah meminta keterangan dari Polsek Cipayung, namun sayangnya Pak Kanit sedang meeting di Polres Jakarta Timur, dan baru bisa ditemui sore. Itupun Pak Kanit tidak bersedia diambil gambarnya dengan alasan si Pelaku belum tertangkap, sehingga akan menyulitkan penyelidikan ketika pelaku mengenali Pak Kanit. Dari Polsek Cipayung kami ke TKP dan bertemu dengan ibu Korban. Dengan detail dan tabah, si Ibu menceritakan kejadian yang menimpa anak keduanya. Dari TKP kami menluncur ke RS POLRI Kramat Jati untuk bertemu korban. Namun korban, dan si Cowok menolak diwawancarai dengan alasan trauma dan masih ingin hidup. Tampaknya, Indonesia harus sudah memiliki program Perlindungan Saksi seperti di Film-film Holywood itu. Kalau di sana saksi dan saksi pelapor kan dilindungi, kalo di sini kebalikannya, saksi dan saksi pelapor malah bisa jadi TSK…..

Liputan pertama di Cerita Pagi tidaklah berjalan mulus. Sejak berangkat kami tidak mendapat jatah mobil batik operasional, sehingga terpaksa menggunakan taksi. Belum lagi hambatan yang terjadi di lapangan, seperti narsum yang menolak di wawancarai atau susahnya melihat barang bukti kejahatan. Tetapi, tetap sehat tetap semangat, liputan harus jalan terus.

Pada akhirnya, aku belajar banyak dari liputan kriminal pertamaku di Cerita Pagi. Aku, sebagai juru rekam gambar, di bebaskan untuk mengambil gambar dengan variasi dan angle yang berbeda. Yang penting pakem utama sudah terpenuhi. Dengan segala hambatan yang melintas, akhirnya liputan kali ini menghadirkan liputan Establish, est. Polsek, RS, TKP, dan wawancara saksi. Ya, aku bakal banyak belajar tentang gambar yang lebih variatif, menggunakan seluruh nalar dan daya kreatif agar berita kriminal tak membosankan di mata penonton.

Akhirnya, meski tetap sehat dan tetap semangat, kita bisa tetap jalan-jalan tanpa makan-makan…..

Cibodas, 27 Oktober 2006

Friday, November 3rd, 2006

100_3224 Ini wajah Lapangan Parkir Cibodas, saat aku berkunjung pada Jum’at 27 Oktober 2006. Menempuh perjalanan lebih kurang 4 jam dan melintas jarak 120km dari rumahku ke Cibodas via Jonggol, akhirnya tiba juga di Cibodas Jum’at dinihari jam 3. Punggungan sebelah kiri adalah puncak Gn. Gede, sementara sebelah kanannya adalah Puncak Gn. Pangrango, yang pernah menjadi perhatian di kalangan pendaki dan penikmat puisi, karena Soe Hok Gie, pernah menuliskan penanya untuk Pangrango. Hal pertama yang ku rasa adalah, SEGAR. Udara dingin menusuk tulang seakan membangkitkan kenangan untuk selalu kembali menjelajah hutan rimba pegunungan. Kesegaran udaranya membuat paru-paruku terasa enteng, yang membuatnya berat pada saat berada di sana adalah asap tembakau yang justru memberikan ketenangan pada pikiran.

Tak puas rasanya hanya melihat Gn. Gede-Pangrango dari kejauhan. Ingin sekali kaki ini menjejak ke bebatuan yang ada di sana. Paling tidak, berkunjung ke Cibereum, menikmati sejenak air terjun dan bermain dengan gemericik kesegaran airnya. Nyatanya, semua itu tak bisa kulakukan. Hanya memandangi barisan puncak gunung di hadapanku membuatku justru terlena. Ya, menikmati mentari pagi dari Lapangan Parkir Cibodas cukup membuatku terlena tampaknya, hingga harus melupakan keinginan-keinginanku yang ku tanam sejak berangkat dari rumah.

Tetapi, kotornya Lapangan Parkir Cibodas cukup mengusik hatiku. Ini pasti ulah manusia kota, yang tidak becus menangani hasratnya untuk buang sampah sembarangan, hingga Lapangan Parkir ini mirip TPA Bantar Gebang. Maklum juga si, musim libur lebaran, jadi banyak pengunjung yang berwisata, entah pribadi maupun rombongan. Mestinya tidak jadi alasan untuk belajar buang sampah tidak sembarangan. Heran….

100_3226_6 Meski prihatin, tapi aku juga tak juga membantu petugas pembersih sampah yang datang pada pukul 8 pagi harinya. Kawasan ini memang penuh sampah saat ini, tapi tidak mengurangi ketakjubanku pada alam. Dan inilah wajahku. Meski Lapangan Parkir Cibodas penuh sampah, jalan-jalan dan makan-makan tidaklah nikmat tanpa foto-foto…