Archive for January, 2007

Dance With Love

Thursday, January 25th, 2007

Hari ini aku ingin menari

bersama bunga dan angin sepoi dari puncak gunung

juga dengan hangatnya matahari pagi.

Hari ini aku ingin menari

dengan bualan dan omongkosongku selama ini

semua tentangmu,

tentang kita,

tentang kasih sayang,

juga tentang tentangan-tentangan dalam hidup.

Aku ingin sekali menari

bersama bayangmu di sini

Tidakah kau ingat waktu itu?

Sayang, detik jam selalu menghujam

tanpa kenal belas kasih apalagi cinta.

Detik jam yang menghujam itu tak bisa di buat mundur

tapi aku ingin mengulangnya

dan menari bersamamu

aku ingin mengulangnya dalam pikiran

dan tersimpan rapat di palung terdalam jiwa ini

Andai kau mendengar, aku ingin menari bersamamu…

—januariduabelas2007—

Menikah = Obsesi Masa Depan??

Thursday, January 25th, 2007
Dalam masa-masa penuh kejenuhan, sebuah surat elektronik terkirim masuk ke dalam kotak surat elektronikku. Seperti biasa, langsung ku baca, karena kebetulan memang sedang online. Dan si pengirim juga sedang online pula, jadi bisa langsung ku balas suratnya.
Kali ini si pengirim surat mengirimkan suratnya dengan judul "Membebaskan Diri dari Obsesi Menikah". Tergelitik, meminjam istilah seorang teman yang peneliti, aku pun mulai membaca kata demi kata. Isinya tentang perjalanan hidup seseorang yang kemudian di terjemahkan menjadi sindrom. Di awali dengan kisah hidup seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi hasil didikan luar negeri, dan pulang ke negari asalnya hanya untuk menemukan pasangan hidup. Perjalanan hidup wanita ini kemudian tidak begitu baik, bahkan pernikahan yang menjadi cita-citanya kala memutuskan pulang kerumah, tidak berjalan dengan baik. Pada akhir cerita, si wanita kemudian di kritik sebagai orang yang salah jalan. Mungkinkan??
Well, beberapa orang memikirkan pernikahan adalah stasiun berikutnya dalam perjalanan menyusuri rel kehidupan. Ada yang memang menikah muda, bahkan sangat muda, ketika rel kehidupannya tidak banyak menghampiri stasiun kehidupan. Ada yang nikah ketika sudah dianggap uzur, karena memang stasiun itu belumlah tiba. Inilah perjalanan hidup seseorang, yang kadang menurut kita sendiri tidak berwarna.
Dalam hidup, stasiun-stasiun itu hadir bahkan sejak kita lahir. Sejak menghirup udara bumi, stasiun berikutnya adalah menjadi anak yang lucu. Kemudian stasiun berikutnya hadir tanpa disadari bahwa kita singgah di stasiun Remaja. Stasiun Transisi dari Remaja menuju dewasa penuh lika-liku dan jalan yang bercabang. Jalan manapun yang diambil, kita akan tiba jua di stasiun dewasa yang memenuhi gerbong kereta kehidupan kita dengan sejuta pertanyaan.
Stasiun-stasiun setelahnya bisa ditebak. Kala usia telah dianggap matang, pernikahan adalah sebuah tujuan berikutnya. Kemudian punya anak, dan di masa depan, stasiun abadi telah menunggu kita. Hanya saja orang memang melalui stasiun-stasiun itu dengan jarak, jalur, dan lajur berbeda. Ketika sampai pada stasiun pernikahan, si wanita bisa saja telat beberapa waktu, atau malah ia mempercepatnya dengan melewati berbagai stasiun tanpa pernah berhenti sejenak dan menikmati kehidupannya. Akibatnya, menurutku, stasiun abadi akan lebih cepat tiba ketimbang orang yang memutuskan untuk singgah sejenak. Selayaknya kereta api di Indonesia, ada eksekutif dan ekonomi, orang yang mempercepat jalannya kereta kehidupannya akan lebih cepat menyinggahi stasiun abadi ketimbang ekonomi yang bergerak lambat "menikmati" perjalanan.
Beberapa temanku juga demikian. Bahkan teman yang mengirimkan surat ini juga terobsesi dengan pernikahan. Dia juga menyatakan dengan sangat terus terang dalam berbagai macam kesempatan. Seolah-olah hidupnya tinggal beberapa stasiun lagi kemudian tiba pada stasiun akhir, dan menikmati hidup dari kereta tanpa pernah singgah.
Beberapa temanku juga sudah menikah. Meski ini tidak merisaukan, tetapi cukup memberi pengertian dan menyadarkan aku, bahwa cepat atau lambat, stasiun itu akan juga tiba. Menikah pun tidak lagi menjadi obsesi, tetapi bagian dari perjalan kereta kehidupan.

Hari-hari yang memuakkan…

Thursday, January 25th, 2007

Seminggu sudah tidak ada yang menyenangkan. Beberapa harinya kulalui dengan muram. Huhh, andai saja kutahu akan begini, tentu saja ku akan melancong ke dunia yang sudah ku tinggalkan sejak lama. Tapi toh tetap saja jika ku tahu, tidak akan bisa kulakukan.

Hari-hari menjadi semakin memuakkan. Dengan penuh teriakan, cacian, pujian, nasehat, semangat, dan bla…bla…bla…Intinya benar-benar menjadi minggu yang tidak menyenangkan. Cacian dan teriakan sudah menjadi makanan sehari-hari, sementara pujian, nasehat dan bantuan semangat tidak juga membuat aku bisa melepas dahaga kebuntuan jiwa. Hari-hari kemarin berlalu layaknya orang yang terpenjara tanpa pernah mengerti kesalahan dan ketukan palu vonis.

Fyuhhh, membayangkan saja aku tidak mampu sebenarnya, tetapi toh ternyata aku menerima kenyataan bahwa aku sedang berada pada tahap ini. Tahap yang memuakkan, menjemukan, tahap dimana tatapan orang-orang kurasakan menjadi tatapan yang sangat menjengkelkan.

Ahh, tetap saja keluh kesah ini tak dapat ku sampaikan semua. Terlebih padamu, yang memang membuat aku merasa nyaman sekaligus tidak nyaman. Tidak enak ternyata berdiri di antara dua karang yang keras membatu di tengah riak ombak kehidupan. Semoga aku bisa menentukan sikap, tepat pada saat matahari terbit esok pagi. Semoga…

Awal Tahun

Thursday, January 11th, 2007

Awal tahun ini ada "kado spesial". Tidak spesial buatku sebenernya, tetapi ini sangat spesial buat teman, sahabat terbaikku. Apa yang dia impikan, juga sebagian besar lulusan dan mahasiswa HI se Indonesia, tahun ini tercapai. Sebenernya tidak pada tahun ini dia mendapatkan kabar gembira sekaligus membanggakan itu. Pengumuan resminya tepat pada akhir 2006 lalu menjadi kado terindah buatnya di akhir tahun sekaligus membuka lembaran baru yang gemilang di awal 2007.

Menjadi diplomat, mewakili Indonesia Milik Kita Bersama adalah impian terbesarnya. Dan dia mampu meraihnya dengan segala pesimistis pada awalnya, namun kenyataan membuktikan sebaliknya. Cita-cita besar itu seolah membalikan asumsi orang yang pernah meremehkan dirinya. Bagiku, pencapaian ini membuatku terbuka, bahwa seseorang tidak saja ditentukan dengan sederet angka akademis fantastis, namun juga keberpihakan Tuhan pada nasib seseorang. Siapa yang menyangka jika dia mampu menyisihkan 8000 peserta yang tentunya datang dengan prestasi akademis yang tidak main-main?? Good luck for you, Nn….

Paling tidak teman-temanku lengkap sudah. Jurnalis ada, broker politik banyak, (calon) bankir ada, pengusaha ada, dan sekarang diplomat….Ku do’a kan yang terbaik untukmu..