Hari-hari yang memuakkan…

Seminggu sudah tidak ada yang menyenangkan. Beberapa harinya kulalui dengan muram. Huhh, andai saja kutahu akan begini, tentu saja ku akan melancong ke dunia yang sudah ku tinggalkan sejak lama. Tapi toh tetap saja jika ku tahu, tidak akan bisa kulakukan.

Hari-hari menjadi semakin memuakkan. Dengan penuh teriakan, cacian, pujian, nasehat, semangat, dan bla…bla…bla…Intinya benar-benar menjadi minggu yang tidak menyenangkan. Cacian dan teriakan sudah menjadi makanan sehari-hari, sementara pujian, nasehat dan bantuan semangat tidak juga membuat aku bisa melepas dahaga kebuntuan jiwa. Hari-hari kemarin berlalu layaknya orang yang terpenjara tanpa pernah mengerti kesalahan dan ketukan palu vonis.

Fyuhhh, membayangkan saja aku tidak mampu sebenarnya, tetapi toh ternyata aku menerima kenyataan bahwa aku sedang berada pada tahap ini. Tahap yang memuakkan, menjemukan, tahap dimana tatapan orang-orang kurasakan menjadi tatapan yang sangat menjengkelkan.

Ahh, tetap saja keluh kesah ini tak dapat ku sampaikan semua. Terlebih padamu, yang memang membuat aku merasa nyaman sekaligus tidak nyaman. Tidak enak ternyata berdiri di antara dua karang yang keras membatu di tengah riak ombak kehidupan. Semoga aku bisa menentukan sikap, tepat pada saat matahari terbit esok pagi. Semoga…

2 Responses to “Hari-hari yang memuakkan…”

  1. ABe Says:

    udeh… cuekin aje… keadaan memang bukan kita yang meminta tetapi emang sudah jalannye kayak gitu. mending ‘mabook’ aja yuuk??? huehuehuehue…

  2. Ardian Says:

    mabok yuuu…hahahaha
    dah cari harim trus gesek rame2…kelar…kejemuak akan berganti peluh kenikmatan bow!wuahahahaa

Leave a Reply