Archive for February, 2007

Waktu Banjir

Thursday, February 15th, 2007

Img_0014 Ini ada beberapa foto waktu rumahku kemarin kebanjiran. Ga parah banget si, cuma jalan depan rumah terendam sebetis. Dan jika rumahku sudah ketinggian air sudah sebetis, di depan komplek bisa setinggi dada orang dewasa. Syukur air cepat surut, karena memang daerah rumahku dulunya bekas rawa dengan kontur tanah menurun.

Img_0016 Pulang dari kantor dari jam 10.30 malam, sampai di rumah jam 02.00 dini hari dan sudah mendapati ketinggian air sebetis. Kenapa sampai dini hari?? Hmmm, penyebabnya adalah rute anteran yang memang tidak menguntungkan. Orang pertama yang selalu diantar rumahnya di Jatiwaringin. Dan, Ya Allah!!! Satu mobil stuck di pintu tol Pondok Gede dan merayap selama satu setengah jam untuk keluar. Melelahkan…..

Besoknya, sebagian tim Bekasi tidak ada yang berangkat kantor. Sebenarnya sih bisa, namun akses keluar rumah menuju kantor benar-benar macet dan nyaris tidak ada jalan untuk menuju kantor. Kecuali, rela-rela jalan kaki. Tapi, setidaknya bisa istirahat sejenak dari rutinitas kantor, dan selama weekend, praktis siaga 1 terhadap banjir.

Durian Lantai Tiga

Friday, February 9th, 2007

Sudah lama tidak mencicipi duren. Bukan mencicipi sebenarnya. Kali ini aku makan beberapa butir buah durian hasil perburuan tim Wisata Kuliner di Medan. Tanpa ba-bi-bu, dua buah box durian hasil karya Pak Singlet habis sudah dikeroyok aku, Nadia, Emi, Donat, Lufty, Pak Ripno, Ruby, Pak Security. Hehehe, kurang satu nih pesertanya. Rathi kemana ya? Rathi, lu dimana? Masih di Lombok? Hehehe, cepat pulang say, kita bergosip ria…

Kalo soal durian, dari sejak bergabung ke Wisata Kuliner, aku, Rathi dan Nadia adalah pemburu sejati. Biar bagaimanapun, kalau ada liputan durian, mencicipinya bukan lagi sunah, tetapi menjadi wajibbb! Teringat jadinya waktu bikin liputan di Sunter puasa-puasa tengah siang bocor. Ada segmen oleh-oleh, dan Pak BW (atau kita ya??) milih durian. Namun harus di rem dulu nih, nunggu buka. Dan pada akhirnya durian itu sampai di Lantai Tiga, tanpa banyak komentar, langsung kami lahap dengan makannya.

Lain lagi waktu di Bandung. Liputan mie ceker plus bonus pesanan es durian yang konon katanya terenak se Bandung. Ga peduli deh, yang jelas asal durian itu enak ya enak aja makannya. Mau di bikin es, jus, atau malah langsung dari buahnya.

Terakhir kali sebelum durian ini masuk ke lambungku adalah makan durian bersama tim liputan Sisi Lain di Kedai Durian Pak Singlet di Medan. Tapi tak banyak waktu itu, karena aku sedang tidak enak badan. Namun, beberapa butir cukup memberi kesegaran kembali. Lama tak merasakan durian, datang pempaken. Itu lho, durian hutan yang katanya rasanya mirip durian biasa. Buahnya agak kuning dan lebih kenyal, tidak lembek serta rasanya menurutku tidak se-enak durian konvensional (?). Tetapi tetap saja merasakan sensasi durian, meski cuma cicip sebutir saja.

Well, durian memang menjadi favoritku. Namun harus hati-hati, sebab dengan kadar alkohol tinggi jika buahnya sangat matang, bisa membuat kita "terlena". Obatnya cuma satu, masukkan air ke cangkangnya dan minumlah. Konon bisa membuat kita tidak "terlena".

Terlena bukan karena cinta saja, durian pun demikian…