Archive for March, 2007

Ku Sampaikan Kepada Langit

Thursday, March 22nd, 2007

Kali ini kusampaikan keluh kesahku kepada langit

dengan segenap isi dan bentuknya

Kepada awan, bintang, bulan, matahari,

semilir angin, rintik hujan, petir dan badai…

Juga ku adukan segala duka kepada Mu

Pemilik semesta tak berakhir

Yang Penyabar, Pemurah, Pemberi,

dan sembilanpuluhenam nama lain-Nya

tak ku hapal tentunya…

Berharap yang tak pernah nyata

kepada-Mu lah aku akhirnya berkeluh kesah

bahwa yang kusampaikan padanya

adalah riak sungai kejujuran

berhulu dari hati…

dan bermuara di kebeningan jiwa…

—dilantaitigajamsebelasnolempatmalam—

Teka Teki

Wednesday, March 14th, 2007

Lantai ini sedang addict main tekateki. Ada link ke web yang bikin kepala pusing. Kalau mau coba silakan…

Meski banyak trik dan petunjuk, bahkan jawabannya langsung, tidak mudah menyelesaikan teka-teki yang ditunjukkan. Seperti namanya, teka-teki, kadang jawaban sama soal ga nyambung. Kadang jawabannya bikin bingung. Tapi, it’s just a game, enjoy your life saja. Ga usah dibawa bingung, toh kadang kalau kita sudah mampat pemikiran, tinggal klik forum, dan sejumlah petunjuk, sampe makian, dan komentar yang lucu-lucu tersedia. Lumayan buat pengobat stres dan deadline.

Suatu Hari di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah

Thursday, March 8th, 2007

Perjalanan tugas kantor untuk liputan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan tidaklah begitu menyenangkan. Penyebabnya apalagi: set up kota yang tidak menyenangkan. Jujur saja, awalnya cukup excited ketika aku akhirnya menginjakkan kaki di bumi Borneo. Sesaat setelah pesawat menjejak bandara, hilang sudah rasa antusias itu. Dan pada akhirnya terbukti setelah sampai ke pusat kota yang kotor, kumuh, dan tidak enak di pandang. Benar kata sebagian orang, bahwa Banjarmasin adalah ibu kota propinsi paling kotor se- Indonesia.

Rasa "kalimantan" baru ku dapat saat menuju Kuala Kapuas di Kalimantan Tengah. Saat itu kasus besar menanti, pemakan jenasah. Kasusnya sendiri mirip Sumanto. Sama-sama sedikit gila ketika pulang dari "menuntut ilmu". Sumanto berguru di Lampung, Solehan di Malaysia. Yup, tersangka satu ini memang pernah bekerja menjadi TKI di negeri Jiran tersebut.

Perjalanan dari Banjarmasin menuju Kuala Kapuas sebenarnya tidak terlalu jauh. Cukup 45 menit menggunakan mobil pribadi, kita sudah sampai di Kuala Kapuas. Sepanjang jalan, meski tidak menjumpai hutan tropis nan lebat, tetapi aroma Borneo sudah tercium. Sejumlah rumah panggung yang berdiri di atas rawa, dan jalan lintas Kalimantan yang kecil. Melewati Barito Bridge, menambah kental aroma Borneo kali itu.

Sesampainya di Kuala Kapuas, liputan sudah menunggu. Hari pertama kami, aku dan Firza, liputan menyusuri sekitar TKP, rumah TSK dan rumah korban yang memang bertetangga. Bertetangga ala Kalimantan artinya menyusuri lahan dengan berjalan kaki total 4 km, atau 4 pal istilah orang lokal. Kebayang dong, siang bolong melewati hamparan sawah (lebih tepatnya lahan rawa yang di-sawah-kan), tidak ada pohon untuk berteduh, rumah penduduk yang berjauhan. Lengkap sudah penderitaan…

Dua hari kemudian, kami tiba lagi di Kuala Kapuas untuk mengambil beberapa hal yang berkaitan dengan liputan. Setelah mengamankan gambar Solehan sang Kanibal, kami berangkat lagi ke TKP. Cuma bedanya, hari pertama kami menggunakan speedboat milik Polres Kapuas, yang kedua kami cukup menyeberang anak sungai Kapuas selebar 10 meter….dengan sampan!!!!! Dan sampan yang biasanya dinaiki dua orang, kali ini harus rela dijejali 4 orang.

Penderitaan belum hilang…penyeberangan 10 meter selama 3 menit itu aku harus membagi konsentrasi antara keseimbangan sampan dengan seabreg alat liputan. Yang ku khawatirkan adalah tujuh kaset liputan dan kamera tentunya. Salah sedikit, kedalaman 7 meter menanti…Alhamdulillah, penyeberangan berangkat dan pulang aman. Penyeberangan pulang, aku berkesempatan melihat sunset Kapuas. Beruntung sempat ku abadikan…Subhanallah…

Dscn1901