Suatu Hari di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah

March 8th, 2007 by tukangceritapagi

Perjalanan tugas kantor untuk liputan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan tidaklah begitu menyenangkan. Penyebabnya apalagi: set up kota yang tidak menyenangkan. Jujur saja, awalnya cukup excited ketika aku akhirnya menginjakkan kaki di bumi Borneo. Sesaat setelah pesawat menjejak bandara, hilang sudah rasa antusias itu. Dan pada akhirnya terbukti setelah sampai ke pusat kota yang kotor, kumuh, dan tidak enak di pandang. Benar kata sebagian orang, bahwa Banjarmasin adalah ibu kota propinsi paling kotor se- Indonesia.

Rasa "kalimantan" baru ku dapat saat menuju Kuala Kapuas di Kalimantan Tengah. Saat itu kasus besar menanti, pemakan jenasah. Kasusnya sendiri mirip Sumanto. Sama-sama sedikit gila ketika pulang dari "menuntut ilmu". Sumanto berguru di Lampung, Solehan di Malaysia. Yup, tersangka satu ini memang pernah bekerja menjadi TKI di negeri Jiran tersebut.

Perjalanan dari Banjarmasin menuju Kuala Kapuas sebenarnya tidak terlalu jauh. Cukup 45 menit menggunakan mobil pribadi, kita sudah sampai di Kuala Kapuas. Sepanjang jalan, meski tidak menjumpai hutan tropis nan lebat, tetapi aroma Borneo sudah tercium. Sejumlah rumah panggung yang berdiri di atas rawa, dan jalan lintas Kalimantan yang kecil. Melewati Barito Bridge, menambah kental aroma Borneo kali itu.

Sesampainya di Kuala Kapuas, liputan sudah menunggu. Hari pertama kami, aku dan Firza, liputan menyusuri sekitar TKP, rumah TSK dan rumah korban yang memang bertetangga. Bertetangga ala Kalimantan artinya menyusuri lahan dengan berjalan kaki total 4 km, atau 4 pal istilah orang lokal. Kebayang dong, siang bolong melewati hamparan sawah (lebih tepatnya lahan rawa yang di-sawah-kan), tidak ada pohon untuk berteduh, rumah penduduk yang berjauhan. Lengkap sudah penderitaan…

Dua hari kemudian, kami tiba lagi di Kuala Kapuas untuk mengambil beberapa hal yang berkaitan dengan liputan. Setelah mengamankan gambar Solehan sang Kanibal, kami berangkat lagi ke TKP. Cuma bedanya, hari pertama kami menggunakan speedboat milik Polres Kapuas, yang kedua kami cukup menyeberang anak sungai Kapuas selebar 10 meter….dengan sampan!!!!! Dan sampan yang biasanya dinaiki dua orang, kali ini harus rela dijejali 4 orang.

Penderitaan belum hilang…penyeberangan 10 meter selama 3 menit itu aku harus membagi konsentrasi antara keseimbangan sampan dengan seabreg alat liputan. Yang ku khawatirkan adalah tujuh kaset liputan dan kamera tentunya. Salah sedikit, kedalaman 7 meter menanti…Alhamdulillah, penyeberangan berangkat dan pulang aman. Penyeberangan pulang, aku berkesempatan melihat sunset Kapuas. Beruntung sempat ku abadikan…Subhanallah…

Dscn1901

Waktu Banjir

February 15th, 2007 by tukangceritapagi

Img_0014 Ini ada beberapa foto waktu rumahku kemarin kebanjiran. Ga parah banget si, cuma jalan depan rumah terendam sebetis. Dan jika rumahku sudah ketinggian air sudah sebetis, di depan komplek bisa setinggi dada orang dewasa. Syukur air cepat surut, karena memang daerah rumahku dulunya bekas rawa dengan kontur tanah menurun.

Img_0016 Pulang dari kantor dari jam 10.30 malam, sampai di rumah jam 02.00 dini hari dan sudah mendapati ketinggian air sebetis. Kenapa sampai dini hari?? Hmmm, penyebabnya adalah rute anteran yang memang tidak menguntungkan. Orang pertama yang selalu diantar rumahnya di Jatiwaringin. Dan, Ya Allah!!! Satu mobil stuck di pintu tol Pondok Gede dan merayap selama satu setengah jam untuk keluar. Melelahkan…..

Besoknya, sebagian tim Bekasi tidak ada yang berangkat kantor. Sebenarnya sih bisa, namun akses keluar rumah menuju kantor benar-benar macet dan nyaris tidak ada jalan untuk menuju kantor. Kecuali, rela-rela jalan kaki. Tapi, setidaknya bisa istirahat sejenak dari rutinitas kantor, dan selama weekend, praktis siaga 1 terhadap banjir.

Durian Lantai Tiga

February 9th, 2007 by tukangceritapagi

Sudah lama tidak mencicipi duren. Bukan mencicipi sebenarnya. Kali ini aku makan beberapa butir buah durian hasil perburuan tim Wisata Kuliner di Medan. Tanpa ba-bi-bu, dua buah box durian hasil karya Pak Singlet habis sudah dikeroyok aku, Nadia, Emi, Donat, Lufty, Pak Ripno, Ruby, Pak Security. Hehehe, kurang satu nih pesertanya. Rathi kemana ya? Rathi, lu dimana? Masih di Lombok? Hehehe, cepat pulang say, kita bergosip ria…

Kalo soal durian, dari sejak bergabung ke Wisata Kuliner, aku, Rathi dan Nadia adalah pemburu sejati. Biar bagaimanapun, kalau ada liputan durian, mencicipinya bukan lagi sunah, tetapi menjadi wajibbb! Teringat jadinya waktu bikin liputan di Sunter puasa-puasa tengah siang bocor. Ada segmen oleh-oleh, dan Pak BW (atau kita ya??) milih durian. Namun harus di rem dulu nih, nunggu buka. Dan pada akhirnya durian itu sampai di Lantai Tiga, tanpa banyak komentar, langsung kami lahap dengan makannya.

Lain lagi waktu di Bandung. Liputan mie ceker plus bonus pesanan es durian yang konon katanya terenak se Bandung. Ga peduli deh, yang jelas asal durian itu enak ya enak aja makannya. Mau di bikin es, jus, atau malah langsung dari buahnya.

Terakhir kali sebelum durian ini masuk ke lambungku adalah makan durian bersama tim liputan Sisi Lain di Kedai Durian Pak Singlet di Medan. Tapi tak banyak waktu itu, karena aku sedang tidak enak badan. Namun, beberapa butir cukup memberi kesegaran kembali. Lama tak merasakan durian, datang pempaken. Itu lho, durian hutan yang katanya rasanya mirip durian biasa. Buahnya agak kuning dan lebih kenyal, tidak lembek serta rasanya menurutku tidak se-enak durian konvensional (?). Tetapi tetap saja merasakan sensasi durian, meski cuma cicip sebutir saja.

Well, durian memang menjadi favoritku. Namun harus hati-hati, sebab dengan kadar alkohol tinggi jika buahnya sangat matang, bisa membuat kita "terlena". Obatnya cuma satu, masukkan air ke cangkangnya dan minumlah. Konon bisa membuat kita tidak "terlena".

Terlena bukan karena cinta saja, durian pun demikian…

Dance With Love

January 25th, 2007 by tukangceritapagi

Hari ini aku ingin menari

bersama bunga dan angin sepoi dari puncak gunung

juga dengan hangatnya matahari pagi.

Hari ini aku ingin menari

dengan bualan dan omongkosongku selama ini

semua tentangmu,

tentang kita,

tentang kasih sayang,

juga tentang tentangan-tentangan dalam hidup.

Aku ingin sekali menari

bersama bayangmu di sini

Tidakah kau ingat waktu itu?

Sayang, detik jam selalu menghujam

tanpa kenal belas kasih apalagi cinta.

Detik jam yang menghujam itu tak bisa di buat mundur

tapi aku ingin mengulangnya

dan menari bersamamu

aku ingin mengulangnya dalam pikiran

dan tersimpan rapat di palung terdalam jiwa ini

Andai kau mendengar, aku ingin menari bersamamu…

—januariduabelas2007—

Menikah = Obsesi Masa Depan??

January 25th, 2007 by tukangceritapagi
Dalam masa-masa penuh kejenuhan, sebuah surat elektronik terkirim masuk ke dalam kotak surat elektronikku. Seperti biasa, langsung ku baca, karena kebetulan memang sedang online. Dan si pengirim juga sedang online pula, jadi bisa langsung ku balas suratnya.
Kali ini si pengirim surat mengirimkan suratnya dengan judul "Membebaskan Diri dari Obsesi Menikah". Tergelitik, meminjam istilah seorang teman yang peneliti, aku pun mulai membaca kata demi kata. Isinya tentang perjalanan hidup seseorang yang kemudian di terjemahkan menjadi sindrom. Di awali dengan kisah hidup seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi hasil didikan luar negeri, dan pulang ke negari asalnya hanya untuk menemukan pasangan hidup. Perjalanan hidup wanita ini kemudian tidak begitu baik, bahkan pernikahan yang menjadi cita-citanya kala memutuskan pulang kerumah, tidak berjalan dengan baik. Pada akhir cerita, si wanita kemudian di kritik sebagai orang yang salah jalan. Mungkinkan??
Well, beberapa orang memikirkan pernikahan adalah stasiun berikutnya dalam perjalanan menyusuri rel kehidupan. Ada yang memang menikah muda, bahkan sangat muda, ketika rel kehidupannya tidak banyak menghampiri stasiun kehidupan. Ada yang nikah ketika sudah dianggap uzur, karena memang stasiun itu belumlah tiba. Inilah perjalanan hidup seseorang, yang kadang menurut kita sendiri tidak berwarna.
Dalam hidup, stasiun-stasiun itu hadir bahkan sejak kita lahir. Sejak menghirup udara bumi, stasiun berikutnya adalah menjadi anak yang lucu. Kemudian stasiun berikutnya hadir tanpa disadari bahwa kita singgah di stasiun Remaja. Stasiun Transisi dari Remaja menuju dewasa penuh lika-liku dan jalan yang bercabang. Jalan manapun yang diambil, kita akan tiba jua di stasiun dewasa yang memenuhi gerbong kereta kehidupan kita dengan sejuta pertanyaan.
Stasiun-stasiun setelahnya bisa ditebak. Kala usia telah dianggap matang, pernikahan adalah sebuah tujuan berikutnya. Kemudian punya anak, dan di masa depan, stasiun abadi telah menunggu kita. Hanya saja orang memang melalui stasiun-stasiun itu dengan jarak, jalur, dan lajur berbeda. Ketika sampai pada stasiun pernikahan, si wanita bisa saja telat beberapa waktu, atau malah ia mempercepatnya dengan melewati berbagai stasiun tanpa pernah berhenti sejenak dan menikmati kehidupannya. Akibatnya, menurutku, stasiun abadi akan lebih cepat tiba ketimbang orang yang memutuskan untuk singgah sejenak. Selayaknya kereta api di Indonesia, ada eksekutif dan ekonomi, orang yang mempercepat jalannya kereta kehidupannya akan lebih cepat menyinggahi stasiun abadi ketimbang ekonomi yang bergerak lambat "menikmati" perjalanan.
Beberapa temanku juga demikian. Bahkan teman yang mengirimkan surat ini juga terobsesi dengan pernikahan. Dia juga menyatakan dengan sangat terus terang dalam berbagai macam kesempatan. Seolah-olah hidupnya tinggal beberapa stasiun lagi kemudian tiba pada stasiun akhir, dan menikmati hidup dari kereta tanpa pernah singgah.
Beberapa temanku juga sudah menikah. Meski ini tidak merisaukan, tetapi cukup memberi pengertian dan menyadarkan aku, bahwa cepat atau lambat, stasiun itu akan juga tiba. Menikah pun tidak lagi menjadi obsesi, tetapi bagian dari perjalan kereta kehidupan.

Hari-hari yang memuakkan…

January 25th, 2007 by tukangceritapagi

Seminggu sudah tidak ada yang menyenangkan. Beberapa harinya kulalui dengan muram. Huhh, andai saja kutahu akan begini, tentu saja ku akan melancong ke dunia yang sudah ku tinggalkan sejak lama. Tapi toh tetap saja jika ku tahu, tidak akan bisa kulakukan.

Hari-hari menjadi semakin memuakkan. Dengan penuh teriakan, cacian, pujian, nasehat, semangat, dan bla…bla…bla…Intinya benar-benar menjadi minggu yang tidak menyenangkan. Cacian dan teriakan sudah menjadi makanan sehari-hari, sementara pujian, nasehat dan bantuan semangat tidak juga membuat aku bisa melepas dahaga kebuntuan jiwa. Hari-hari kemarin berlalu layaknya orang yang terpenjara tanpa pernah mengerti kesalahan dan ketukan palu vonis.

Fyuhhh, membayangkan saja aku tidak mampu sebenarnya, tetapi toh ternyata aku menerima kenyataan bahwa aku sedang berada pada tahap ini. Tahap yang memuakkan, menjemukan, tahap dimana tatapan orang-orang kurasakan menjadi tatapan yang sangat menjengkelkan.

Ahh, tetap saja keluh kesah ini tak dapat ku sampaikan semua. Terlebih padamu, yang memang membuat aku merasa nyaman sekaligus tidak nyaman. Tidak enak ternyata berdiri di antara dua karang yang keras membatu di tengah riak ombak kehidupan. Semoga aku bisa menentukan sikap, tepat pada saat matahari terbit esok pagi. Semoga…

Awal Tahun

January 11th, 2007 by tukangceritapagi

Awal tahun ini ada "kado spesial". Tidak spesial buatku sebenernya, tetapi ini sangat spesial buat teman, sahabat terbaikku. Apa yang dia impikan, juga sebagian besar lulusan dan mahasiswa HI se Indonesia, tahun ini tercapai. Sebenernya tidak pada tahun ini dia mendapatkan kabar gembira sekaligus membanggakan itu. Pengumuan resminya tepat pada akhir 2006 lalu menjadi kado terindah buatnya di akhir tahun sekaligus membuka lembaran baru yang gemilang di awal 2007.

Menjadi diplomat, mewakili Indonesia Milik Kita Bersama adalah impian terbesarnya. Dan dia mampu meraihnya dengan segala pesimistis pada awalnya, namun kenyataan membuktikan sebaliknya. Cita-cita besar itu seolah membalikan asumsi orang yang pernah meremehkan dirinya. Bagiku, pencapaian ini membuatku terbuka, bahwa seseorang tidak saja ditentukan dengan sederet angka akademis fantastis, namun juga keberpihakan Tuhan pada nasib seseorang. Siapa yang menyangka jika dia mampu menyisihkan 8000 peserta yang tentunya datang dengan prestasi akademis yang tidak main-main?? Good luck for you, Nn….

Paling tidak teman-temanku lengkap sudah. Jurnalis ada, broker politik banyak, (calon) bankir ada, pengusaha ada, dan sekarang diplomat….Ku do’a kan yang terbaik untukmu..

Awas, ada balap kereta!!!

December 26th, 2006 by tukangceritapagi

Balap kereta?? Hehehe, ini cuma ada di Medan. Ga ada lagi balapan kereta selain di Medan, sebab kendaraan roda dua dalam aksen atau logat Medan adalah Kereta.

Medan, orang pasti akan berasumsi bahwa ini kota yang keras, seperti orang mengasumsikan bahwa Batak terkenal dengan "keras". Padahal, menurut orang sana, Medan dan Batak adalah dua tipe berbeda. Jika bicara Medan, maka yang terkenal adalah Melayu, sedang Batak merupakan salah satu bagian dari Sumatera Utara. Salah sekali jika orang mengasumsikan bahwa Medan, sudah pasti Batak. Dari cara bertutur pun berbeda, Medan lebih melayu, meski Batak jika berbicara dalam bahasa Indonesia juga ada logat melayu.

Delapan hari tugas kantor di Medan sungguh tak terasa, dan lebih-lebih tidak berkesan. Penyebabnya, mulai dari datang hari pertama, sampai menjelang pulang, Medan selalu mendung. Hari pertama tiba langsung disambut hujan deras. Bahkan pernah kami, aku dan Firza, berangkat ke Simalungun pagi dari Medan hujan sampai Simalungun. Jadinya ga berasa sama sekali, selain cuapeee polll liputan selama delapan hari.

Meski demikian, beberapa kawasan di Medan sempat kusinggahi. Diantaranya Merdeka Walk. Kawasan ini di disain sedemikian rupa mirip kafe taman terbuka di Eropa sana. Bertempat di seputaran Lapangan Merdeka, MW selalu di penuhi oleh pengunjung, terutama saat malam tiba. Tidak jauh dari sana ada Kesawan Square. Tempat ini mirip dengan Kya-Kya di Surabaya atau Pasar Semawis di Semarang. Entah mana yang duluan hadir…Yang pasti, Kesawan Square menempati jalan raya yang ditutup menjelang jam 5 sore dan jam 3 pagi. Selama di tutup, jalan ini dipenuhi oleh kursi-kursi dan warung makan. Banyak pula pengunjungnya yang ingin menikmati malam di tempat terbuka.

Yang tidak ketinggalan adalah kopi Medan. Entah kenapa orang Medan suka sekali ngopi. Di berbagai pelosok Medan banyak sekali warkop (warung kopi) tempat orang Medan kumpul. Kopinya…hmmm….muantabbb!!! Kental dan nyaris tidak ada ampasnya. Di warkop-warkop seperti inilah orang Medan juga menghabiskan waktu dengan berbagai aktivitas. Bermain catur, menonton orang main catur, ngobrol, sampai pada diskusi-diskusi ala anggota dewan yang (katanya) terhormat itu. Serasa seperti di Jogja yang terkenal dengan angkringan nasi kucingnya.

Penggemar dan pengunjung tempat-tempat tadi bukan hanya kalangan atas, tetapi bawah, menengah, tua, muda juga gandrung mengunjungi tempat-tempat itu. Mungkin saja bila yang datang adalah sekumpulan anak muda ke warkop, mereka menikmati kopi medan, agar pada saat balap kereta tidak mengantuk.

Awas, ada balap kereta!!!

ME dan YZ

December 11th, 2006 by tukangceritapagi

ME dan YZ menjadi inisial paling populer di jagad pemberitaan media di Indonesia akhir-akhir ini. Rasanya tidak lengkap sebuah berita tanpa menyertakan soal ME dan YZ. Terlebih di kaitkan dengan dampak politis yang timbul dari kasus yang menyertai mereka. Apa kasusnya, rasanya ga usah ditulis lagi, semua orang Indonesia dari pejabat sampai penjahat, dari presiden sampai pengangguran, dari yang intelek sampai yang mirip telek juga sudah pada tahu. Termasuk yang munafik dan ingkar.

Bicara dampak, kasus ME dan YZ menimbulkan keresahan, dan otomatis pro kontra pasti ada. Ada yang bersimpati pada ME karena sebagai korban dan pada akhirnya menuntut adanya Undang-Undang Perlindungan Wanita, ada juga yang menyebut ME sebagai perempuan murahan. Ada juga yang menyebut YZ sebagai korban teknologi, sementara YZ sendiri mengerti moral (agama) tetapi masih juga "kebobolan". Apalagi diakitkan dengan kabar-kabur seorang ustadz di Bandung yang menikah lagi, istilahnya Poligami, jadi makin rame. Presiden SBY bahkan sampai memanggil beberapa pejabat terkait, termasuk Ditjen Bimas Islam untuk membicarakan soal poligami. Apapun alasannya, poligami (sekali lagi) adalah soal pilihan, dan menikah lagi atau tidak, adalah bagian dari hak seseorang. Namun ME dan YZ terkesan saling perang opini. Bahkan dua pengacara juga perang mulut lewat media. ME di bela lawyer yang juga artis RS, sementara YZ di bela sama HPH. Keduanya hari ini datang ke POLDA Metro Jaya, ME sebagai saksi didampingi RS, dan diperiksa di Reskrim, sementara HPH datang atas nama keluarga besar YZ mengadukan ME. Setelah puas, mereka berdua "onani" wacana di depan media. Si RS menganggap dirinya pengacara berkelas, mengerti hukum dan yang lainnya ingin mendompleng ketenarannya. Sementara HPH menggambarkan dirinya paling benar, dan juga berkelas. Siapa yang berkelas, kita tidak tahu. Sebab, sekolah-sekolah di Indonesia ruang kelasnya sudah banyak yang tidak memadai.

Namun, aku melihat ada nuansa politis yang besar dalam kasus ini. Meskipun ME mengakui "beberapa" kejahatan, namun YZ juga sebenarnya harus bertanggung jawab. Sebab selama kasus ini berkembang, kita seolah di buai bahwa YZ sebagai lelaki bisa khilaf, sementara yang perempuan menjadi sasaran tembak. Apalagi posisi YZ yang politisi partai beringin, mantan ketua organisasi mahasiswa berlabel Islam, kemudian lulusan Fakultas Hukum salah satu universitas negeri terbesar di Surabaya, juga menjabat sebagai ketua rohani partai beringin. Dengan sederet "titel" itu, bisakah kita memaafkan YZ yang khilaf? Yang berpendapat bahwa manusia bisa saja salah? Naif sekali dunia ini….

Sementara ME yang juga jadi korban di pojokkan, dan sekarang sasaran tembak sudah dipastikan. Kasihan memang perempuan di Indonesia yang masih tertindas karena pola pikir patriarkal, termasuk pemberitaan. Well, soal pemberitaan, hari ini liputannya ke POLDA Metro, untuk follow up ME. Namun tidak satu pun gambar bagus bisa di dapat, apalagi wawancara. Berhubung bersaing dengan infotainment yang tidak beretika dalam mengambil gambar, maka kami sedikit kesulitan mendapat yang terbaik. Mau tahu perilaku pewarta infotainment dalam bertugas? Kameranya tidak ada zoom in, sebab semua berebut mengambil gambar dalam jarak dekat. Otomatis menghalangi kamera rekanz yang lain. Juga tidak tertib, selalu maunya menang sendiri, tak ber etika, ga bisa diatur. Meski udah di teriakin, tetep aja ga bisa tertib!

Hmmm, ME dan YZ…Memang Enak Ya Zina….

Selasa Pagi

December 4th, 2006 by tukangceritapagi

Selasa pagi ini bener-bener kepagian datang ke kantor. Biasanya memang sudah ramai, tapi hari ini suasana koq agak sepi ya…Kecuali tim-tim liputan reportase, yang lain seperti belum berani menampakkan batang hidungnya. Tapi aku ingin sekali sebenernya memberi ucapan selamat sama Kejamnya Dunia (KD) yang menang Panasonic Award 2006 mengalahkan saudara sendiri Jelang Siang dan Lacak. Tapi meski menang, tak satu pun dari Trans TV yang datang. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena titah pimpinan yang aku sendiri tidak mengerti kenapa melarang Trans TV ikut Panasonic Award. Tidak hanya News Division, tetapi juga Production juga di larang. Padahal, kalau menang khan ikut senang juga.

Selasa pagi ini PLN akan memadamkan aliran listrik di sekitar wilayah rumahku selama kurang lebih 7 jam, dari jam 6 pagi sampe jam 13.00. Alasannya kali ini adalah pemeliharaan alat dan jaringan listrik. Mudah-mudahan benar dipelihara alat dan jaringannya, bukan cuma alasan kurangnya pasokan yang sebenarnya juga karena alat dan jaringan tidak terawat. Seperti diketahui, beberapa pembangkit listrik milik kita, kondisinya sudah ada yang rusak. Belum lagi meledaknya pipa gas Pertamina di Sidoarjo yang mengakibatkan pasokan gas ke PLTG Gresik terhambat. Apalagi kalau dikaitkan dengan korupsi, wuihhh, makin bingung aja mengurai lingkaran kusut yang dibuat invisible evil…

Selasa pagi ini, tak ada yang istimewa, selain segelas kopi hangat yang belakangan jarang sekali aku meminumnya. Apalagi buatan sendiri di pantry kantor. Ah,… semoga siang ini ada liputan yang bikin semangat…